Wednesday, January 1, 2014

Caramel Custard Pudding



Bismillahirrahmanirrahiim...

Dulu… pas masih kuliah, saya pernah membuat puding karamel dengan metode kukus. Pertama, karena cuma tau resep tersebut. Kedua, nggak minat buat nyari resep lain lebih lanjut. Ketiga, nggak punya oven. Kesan saya: trauma. Selain ribed (jaman itu mah masak apaan juga gue ribed, hihi), hasil jadinya bau telor (banget). Intinya, bau amis dan saya nggak kuat makannya.

Karena itulah, saat suami minta dibuatkan puding karamel, bawaannya maleees banget. Udah ngebayangin deh nggak bakal suka sama rasanya. Akhirnya setelah mengumpulkan niat, saya bikin juga puding karamel. Di resep sebenernya nggak pakai tepung custard, tapi karena (akal bulus) pingin menghabiskan tepung custard, jadilah aku masukkan tepung custard, hehe. Ya udah jelas lah ya… teksturnya lebih seperti kue lumpur daripada puding karamel. Selain itu, bikin karamelnya sendiri susaaah… Intinya, hasil akhir belum memuaskan dan masih punya utang ke suami untuk bikin puding karamel yang oke.

Nah, tanggal 20 Desember lalu adik ipar saya menikah dan ada puding karamel di meja pencuci mulut. Karena katering yang dipakai memang beneran oke punya, jadi saya percaya puding karamel ini bisa dijadikan patokan, hehe. Bau telurnya masih ada, tapi nggak sedahsyat hasil eksperimen saya dulu. Kemudian di atasnya ada topping aprikot kalengan yang asem-asem seger. Intinya, enak. Oke deh… saya jadi semangat lagi untuk membuat puding karamel.

Saya nyontek resep dari DapurVanilla yang ternyata asal mulanya dari Sharmi Passion. Mbak Sharmi (orang India kayaknya…) bilang resep ini nggak pernah gagal, langsung ngiler dooooong… Hehe. Ini pendapat saya sih, bikin puding karamel itu gampang, yang susah itu membuat karamel. Alhamdulillah kemarin karamelnya jadi dan bukan seperti permen yang keras, tapi lebih seperti saus… Pokoknya uenaaak. Berikut resepnya ya…

Bahan:
Sirup Karamel:

  • 75 gr gula pasir
  • 3 sdm air panas

Custard:

  • 500 ml susu cair (saya pakai susu kental manis/SKM dengan proporsi 1:4)
  • 50 gr gula pasir (saya pakai 2 sendok makan, atau bisa dicoba sampai dengan sesuai selera)
  • 3 butir telur, kocok lepas
  • ½ sdt vanilla essens (saya pakai bubuk vanilla L’Arome)

Cara Membuat:

  1. Oles mangkuk ramekin dengan margarin tipis-tipis.  Sisihkan.  Panaskan oven dengan suhu 190°C. Saya memakai cup alumunium foil.
  2. Sirup Karamel: lelehkan gula dengan api kecil sampai kuning kecoklatan, tambahkan air, aduk rata.  Matikan api.  Tuang ke ramekin sama banyak.  Sisihkan. Buatan saya cukup untuk 5 cup, tetapi karamelnya nggak cukup euy… padahal sudah aku lebihkan menjadi 100 gram gula. Lain kali akan aku tambah menjadi 125 gram gula. Jangan lupa porsi airnya ditambahkan juga ya…
  3. Custard: panaskan susu dan gula dengan api sedang sambil diaduk-aduk sampai gula larut (tidak perlu sampai mendidih).  Matikan api.
  4. Masukkan telur dan vanilla.  Aduk rata, lalu saring.  Tuang adonan custard ke dalam mangkuk.  Oven dengan suhu 190°C selama 35 – 45 menit dengan metode au bain marie.
  5. Keluarkan pudding dari oven.  Biarkan dingin.  Masukkan ke dalam kulkas dulu sebelum dihidangkan. Hidangkan dengan buah-buahan segar. Menurut saya rasanya menjadi lebih seimbang, karena pudding karamel itu maniiiiis banget.

Oia, berikut ini sedikit tips dari saya (yang sering gagal) saat membuat karamel:

  • Sebaiknya di atas wajan anti lengket dan menggunakan spatula dari bahan silikon, dijamin karamelnya nggak akan nempel-nempel. 
  • Jangan disambi!! Once your caramel become overcooked, you have to make it from the beginning, hihi. 
  • Saat membuat karamel jangan banyak diaduk-aduk, cukup ratakan di wajan. 
  • Jika jumlah air untuk resep karamel dirasa kurang (misalnya ada karamel yang belum larut dan masih bergerindil), silahkan ditambahkan. Nanti airnya akan menguap kok.

Nah, karena puding karamel bukan termasuk dalam resep favorit saya (manis banget, bok), saya pisahkan satu cup untuk dimatangkan dengan cara dikukus supaya saya bisa tahu bedanya tanpa harus bikin dua kali, hehe. Hasilnya? Lebih enak yang dipanggang. Pertama, dari segi tekstur jadinya sangat sangat lembut (padahal yang dipanggang aja udah lembut). Kedua, yang dikukus bau telurnya lebih terasa. Ketiga, yang dikukus menjadi agak berair sedangkan yang dipanggang  kering (dalam artian positif ya...). Tips lainnya, sebaiknya setelah jadi dan didinginkan langsung dihabiskan. Karena kalau disimpan di kulkas terlalu lama (punya saya sekitar 3 hari) jadi berair euy…

Nah, ini dia hasil akhirnya: cantik kaaan? (jarang-jarang muji diri sendiri…hehe)




 Selamat mencoba :)

No comments:

Post a Comment