Wednesday, October 29, 2014

Mexican Bun a.k.a Roti Boy

Bsmillahirrahmanirrahiim...

Kalau soal roti, udahlah... saya udah sreg sama resep Soft Bread-nya Bu Fatmah. Biarpun ada berbagai macam resep roti berseliweran, saya agak males nyobanya. Pertama dan utama ya karena bikin roti itu butuh usaha yang besar (dalam arti sebenarnya) karena masih mengandalkan LG (alias Lengan Gaban) untuk mengulennya sampai kalis.

Sempat sih mencoba roti dengan metode Water Roux, tapi kok kayaknya nggak beda-beda amat... hehe.
Sempat juga tergoda dengan resep roti yang nggak perlu diulen. Tapi dari foto-foto yang berseliweran di FB Group NCC menurut saya kok roti yang tidak diulen ini hasilnya sangat lembek sehingga susah untuk dibentuk menjadi bulat cantik. Dan memang pernah mencoba dough pizza tanpa diulen ya memang adonannya sangat lembek.

Termasuk Mexican Bun ini... Kami sekeluarga memang penggemar berat Roti Boy dan kembaran-kembarannya. Sayang sekali sempat beredar gosip soal status kehalalannya. Dan memang sejauh yang saya temui nggak ada satupun dari kedai roti sejenis yang memiliki Sertifikat Halal MUI. Ini kan Indonesia booo... mestinya diusahakan dong... Jadi akhir-akhir ini memang kami jarang beli roti di luar. Yang paling ngenes udah pasti Ihya, karena tahu apalah dia tentang halal-haram makanan dan masih sulit untuk menahan diri.
Nah, begitu Roti Boy dapat Sertifikat Halal MUI, jarang banget ketemu kedainya... Dan tahu-tahu sekarang kami sudah di Adelaide.

Setelah cek bahan-bahan, terjunlah saya ke dapur untuk membuat si Mexican Bun. Sekalian mau ngetes oven untuk memanggang roti. Saya hanya membuat roti dengan terigu 250 gram saja karena takut nggak kuat mengulennya. Hehe.

Berikut resepnya:

Soft Bread NCC

Bahan :
500 gr tepung terigu protein tinggi
100 gr gula
100 gr mentega
11 gr ragi instant
½ sdt bread improver (nggak pakai, tapi ini aja udah mengembang dengan baik dan empuk kok)
4 butir kuning telur
300 ml air es
½ sdt garam

Cara membuat:

  1. Campur semua bahan kering, kecuali garam, aduk rata
  2. Masukkan air 200 ml dan telur, aduk dan uleni sampai rata.
  3. Masukkan mentega dan garam, uleni lagi sampai kalis elastis.
  4. Adonan siap dibentuk-bentuk.
  5. Diamkan adonan hingga mengembang 2 kali, lalu oven hingga matang (Kemarin saya melalui 2 kali proofing. Yang pertama sampai mengembang dua kali lipat. Dan yang kedua sekitar setengah jam)

Catatan: sisa air 100 ml untuk jaga-jaga aja kalau adonan kurang lembek tambahkan sedikit demi sedikit.

Topping:

  • 50 gr gula halus
  • 50 gr gula palem (kemarin nggak pakai karena keterbatasan bahan, lain kali akan diganti dengan brown sugar)
  • 100 gr mentega
  • 80 gr telur
  • 130 gr terigu protein rendah (pakai all purpose flour karena adanya cuma itu...)
  • 5 gr kopi instan + 1 sdm air panas
  • 5 gr essence kopi (kemarin nggak pakai dan memang rasa kopinya kurang nendang, lain kali jumlah kopi instannya akan saya dobel)
Kebayang nggak bahagianya bangun pagi disambut aroma Mexican Bun? Dan lebih bahagia lagi yang bikin karena anak-bapak rebutan roti yang cuma jadi 10 buah itu. Hehe.



Selamat mencoba!!
Salam!!

Pempek Nasi

Bismillahirrahmanirrahiim...

Yak, mumpung kita orang lagi rajin masak... marilah lanjut ke masakan selanjutnya, hehe.
Kali ini, seperti judul di atas: Pempek Nasi.
Sekitar dua minggu sebelum ini saya juga mencoba membuat pempek dengan resep dari blog Just Try and Taste. Sepertinya sih... pempek kalau perbandingan ikan dan tepungnya minimal 1:1 Insya Allah rasanya oke laaah...

Tapi rasa oke aja kan nggak cukup yaaa... penampilan juga mesti sedap dipandang. Nah, boleh dibilang kapal selam adalah musuh saya. Hehe. Terakhir kali bikin kapal selam yang agak sukses ya waktu bikin Pempek Dos. Itu juga isian telurnya dikiiit, saking takut telurnya keluar.

Percobaan kedua kali membuat kapal selam saat tiba-tiba kangen makan pempek di Adelaide sini. Ya kali tinggal di Warung Buncit bisa langsung capcus ke Pak Raden kalau pingin banget makan pempek. Lha di sini?

Bahan-bahan sudah disiapkan. Tapi ikan tenggiri saya ganti dengan basa fillet *ya... biasa lah... alasan finansial... hihi*. Sedangkan tepung sagu saya ganti dengan tepung tapioka produk dari Thailand. Oia, ikan basa ini kalau menurut Mbah Google adalah sejenis ikan patin. Untuk rasa jelas nggak segurih tenggiri. Tapi masih okelah... supaya lebih sedap saya tambahkan sedikit kaldu blok.

Namun, apalah mau dikata... percobaan pertama membuat pempek di negeri seberang berakhir gatot (buat saya, kalau suami ganteng mah bilangnya enak-enak aja *bingung deh... nggak pernah berbulan-bulan dapet oleh-oleh Pak Raden kali ya...*). Pertama, hasil jadinya kenyal banget. Bener-bener kayak makan aci dipulung-pulung aja gituh... Perkiraan saya sih ini akibat tepung tapiokanya yang mungkin jenis atau komposisi bahannya agak berbeda (udah, kapok... lain kali pakai Sagu Tani atau paling nggak tapioka asal Indonesia sajah). Kedua, ya... kegagalan bikin kapal selam tadi yang bikin boros telur dan dapur berantakan nggak karuan (kalau bentuk pempeknya mah udah jelas kacau). Bad mood juga katanya kan ngaruh tuh sama rasa masakan... pokoknya nggak sedep lah. Ketiga, kuah cukonya diganti dengan kuah martabak yang masih sisa... nggak cocok lah menurut saya...

OOT dikit, ikan basa yang saya beli ini berakhir agak mengenaskan. Karena selain berakhir menjadi pempek gagal, sisanya juga berakhir menjadi otak-otak gagal. Hehe.

Nah, saking penasaran gimana bikin pempek kapal selam... saya googling ke sana ke mari. Dan sambil memanfaatkan nasi sisa (sayang banget kan kalau pakai ikan terus gagal...), jadilah Pempek Nasi!! Berhasil nggak bikin kapal selamnya?


Cukup oke lah ya? Hahaha... *ketawa puas banget!!*

Terus resep mana reseeep? Hehe...
Sebelum resep, review hasilnya dulu ya... Karena menggunakan cukup banyak terigu, jadi secara tekstur menurut saya lebih oke dibandingkan Pempek Dos (nggak terlalu kenyal).
Nasinya sih nggak kerasa... lebih seperti nambahin bahan aja... hehe.
Tapi kalau Anda punya nasi sisa dan udah bosen dengan nasi bakar atau nasi goreng, bolehlah coba resep ini kalau mau sedikit lebih repot. Hehe.

Resep saya ambil dari blog ini.

Pempek Nasi:

1 cup nasi
1 cup tepung terigu
1 cup air
garam (saya pakai 1 SDM)
1/6 cup minyak goreng
1 butir telur
200 gram Sagu Tani (Adanya cuma Tapioka Pak Tani, akhirnya pakai itu...)

Cara Membuat:

  1. Campur nasi, tepung terigu, air, dan garam dalam panci aduk rata. Setelah rata hidupkan api, aduk adonan nasi sampai adonan menyatu dan terasa berat, matikan api.
  2. Masukkan minyak goreng, aduk rata sampai adonan nasi dingin, setelah itu masukkan telur satu persatu, aduk rata.
  3. Terakhir masukkan sagu sedikit demi sedikit sambil diuleni pakai tangan (saya selalu dan selalu pakai spatula) sampai adonan tidak lengket ditangan (kalis)
  4. Bentuk sesuai selera
  5. Rebus dalam air mendidih sampai mengapung. Angkat (tunggu beberapa waktu setelah pempek mengapung untuk meyakinkan bahwa bagian dalam benar-benar matang) . Tiriskan.
  6. Goreng pempek nasi dengan minyak panas, goreng sebentar. Angkat. Tiriskan.

Untuk Kuah Cuko saya memakai resep dari NCC:

Bahan (hanya membuat seperlima resep):

1 kg gula aren
2 liter air
10 buah bawang putih
250 gram cabe rawit (pakai sambal buatan pabrik karena nggak punya cabai rawit. Hasilnya puedess buangett menurut saya... Lain kali akan saya kurangi setengahnya saja atau sesuai selera. Untuk menetralisir saya tambahkan 2 SDM kecap manis)
40 gram garam
5 SDM cuka atau 200 gram asam jawa

Cara membuatnya:

Masak semua bahan menjadi satu.
Kemudian saring.

Selamat mencoba!!
Salam!!

Saturday, October 18, 2014

(Ceritanya) Fudgy Brownies

Bismillahirrahmanirrahiim...

Saya udah berulang kali bikin brownies pakai resep ini. Resepnya saya dapat dari blog-nya Mbak Ricke yang katanya punya Martha Stewart (tapi saya nggak pernah cek sih... karena udah percaya banget sama resep yang dipakai Mbak Ricke). Seringnya sih berhasil... tapi kadang ada juga yang gagal. Biasanya karena mangkok adonan dipakai dua kali tanpa dicuci. Saya juga nggak tahu ilmiahnya gimana... tapi sudah terjadi dua kali dengan keadaan yang sama. Adonan akan menggumpal dan berminyak serta tidak kunjung matang saat dipanggang.

Berhubung saat itu belum punya mixer (sekarang juga masih ragu-ragu sih whisk-nya bisa dipakai buat bikin kue atau nggak...), kue yang paling gampang ya tentunya si brownies ini... Karena tinggal aduk-aduk thok. Sengaja dibikin untuk bekal jalan-jalan ke South Australian Museum.

Kunci bikin brownies yang enak menurut saya ya hanya bahan yang bagus. Karena kalau kualitas bahannya nanggung rasanya juga bakal ya... gitu deh... biasa aja.

Berikut ini resep si Fudgy Brownies:

Super Fudgy Brownies

Bahan:

  • 120 gram unsalted butter
  • 130 gram terigu protein sedang/all purpose flour
  • 30 gram coklat bubuk
  • 1/2 sdt baking powder
  • 1/2 sdt garam
  • 225 gram dark cooking chocolate, cincang
  • 250 gram gula pasir halus (ini amat sangat kemanisan buat saya, sudah cocok di angka 175 gram saja)
  • 3 butir telur ukuran besar
  • Taburan: Almond slice/kenari cincang/chocolate chips, dll


Cara membuat:

  1. Panaskan oven 180'C. Olesi loyang (saya pakai loyang ukuran 20 x 20) dengan mentega dan alasi dengan kertas roti. Oles kembali dengan mentega. Pada bagian sisi-sisi loyang lebihkan sedikit kertas rotinya sekitar 1 cm (fungsinya untuk mengangkat brownies keluar dari loyang). Sisihkan.
  2. Campur dan ayak terigu, coklat bubuk, baking powder dan garam. Sisihkan.
  3. Lelehkan butter. Masukkan dark cooking chocolate. Aduk-aduk hingga coklat meleleh dan tercampur rata dan licin. Angkat.
  4. Masukkan gula pasir halus. Aduk rata dengan whisker hingga gula terlihat menyatu dengan coklat. Masukkan telur. Aduk rata kembali hingga rata dan lembut. Masukkan campuran terigu. Aduk rata hanya sampai tepung sudah merata dan tidak terlihat lagi. Jangan diaduk terlalu lama!
  5. Tuang ke dalam loyang. Ratakan permukaannya. Beri taburan kacang-kacangan dan chocolate chips bila suka. Panggang dalam oven sampai matang sekitar 50 menit. Test sentuh permukaan bagian tengahnya sudah kokoh bila ditekan dan akan terbentuk lapisan 'shiny crust' khas brownies. Test tusuk bila perlu.
  6. Keluarkan dari oven. Diamkan sekitar 30 menit dalam loyang. Keluarkan dengan cara mengangkat kelebihan kertas roti di sisi loyang. Dinginkan di rak kawat. Potong-potong sesuai selera.
Tumben banget kemarin "shiny crust"nya muncul. Menurut saya nggak terlalu penting sih... hehe. Yang penting rasanya enak. Sepertinya penyebabnya adalah suhu oven yang sudah cukup panas saat loyang dimasukkan. Tapi berhubung masih dalam tahap penjajakan dengan oven, ada juga kurangnya... Sepertinya suhu yang panas tersebut membuat kue naik tinggi dan kemudian ambles.

Satu lagi... bahan-bahan yang saya gunakan kurang oke. Niatnya sih mau menghemat, tapi rasanya jadi cenderung mengecewakan. Tapi walaupun mengecewakan harus tetap dipajang dong untuk belajar... hehe.


Note: Besoknya tetangga sebelah ngirimin brownies aja gituh... Super coklat dan lembab. Aaaaah... semoga rejeki lancar jadi bisa bikin kue terus. Hihi.

Salam!

Baked Potato

Bismillahirrahmanirrahiim...

Alhamdulillah akhirnya bisa posting lagi di Cake & Friends. Terakhir kali saya posting di sini adalah tanggal 4 April 2014 saat membuat Pempek Dos. Itu artinya sudah 6 bulan lebih aja gitu saya nggak update blog. Huhu... maaf ya blogku sayang...

Sebenarnya sih ada juga kue atau masakan yang saya buat. Saat lebaran kemarin pun saya cukup banyak membuat kue untuk di rumah Mamah dan dibagikan ke saudara-saudara dekat. Di antara semuanya yang paling menuai penggemar adalah Choco Chips Cookies Putih Telur. Nggak nyangka sih sebenarnya... karena hampir saja itu kue nggak saya pajang karena bentuknya kurang oke. Tapi rasanya ternyata enyak!!

Oh iya... dari mulai bulan Juli saya juga tinggal di rumah mertua. Otomatis kegiatan baking dan cooking juga jadi berkurang karena alat dan bahan semuanya ada di rumah. Selain itu saya juga masih berjibaku dengan urusan keberangkatan ke Adelaide.

Alhamdulillah, tanggal 6 September 2014 saya sampai di Adelaide. Masakan yang saya buat ya kebanyakan untuk makan sehari-hari dan sarapan. Kebetulan juga baru mendapat akomodasi tetap tanggal 23 September. Jadi belum banyak bereksperimen dengan resep-resep baru.

Tinggal di negara di mana makanan halal (dan murah) tidak mudah didapatkan, membuat saya masak terus. Hehe. Seneng sih... tapi kadang kehabisan ide juga. Dan berhubung alat-alat masak masih terbatas, biasanya saya memanfaatkan sebisa mungkin perlengkapan dan bahan-bahan yang ada. Untungnya suda ada built-in oven. Untuk masakan sih lebih gampang karena bisa mengira-ngira suhunya. Tapi kalau untuk kue memang harus banya dipakai sehinga terbiasa dengan pengaturan suhunya. Apalagi di oven tidak ada termometernya.

Di sini juga makanan dieman-eman bangeeet nget. Bukan sedikit makannya, tapi jangan sampai makanan yang sudah dibeli atau dibuat sampai dibuang atau tidak habis. Kesannya ngirit banget (emang iya sih...). Tapi disadari atau nggak sebelumnya saya suka menggampangkan hal tersebut karena merasa makanan bisa didapatkan dengan mudah.

Halah... jadi ngelantur ke mana-mana... Intinya sih cuma mau laporan hasil percobaan Baked Potato ala Mbak Besta yang resepnya ada di Group FB NCC. Berikut adalah resep aslinya:

Bahan :


  • 1 kg kentang kukus, kupas, potong2
  • 500 ml susu UHT Tawar
  • 2-3 butir telur kocok lepas
  • 3 sdm terigu
  • Sosis/smoked beef/corned secukupnya
  • 1 buah bawang bombay dicincang, tumis hingga harum
  • Garam, gula, lada, keju sesuai selera
  • Mayonaise tahan panggang secukupnya


Cara membuat :

  1. Campur susu, telur, terigu, bawang bombay, dan bumbu. Aduk rata dengan whisk
  2. Oles loyang/pinggan dengan margarine, tata 1/2 bagian potongan kentang dan sosis, siram dg 1/2 bagian bahan cair, beri keju. tata lagi sisa kentang dan sosis, siram dg sisa bahan cair, taburi keju.
  3. Bisa langsung dipanggang ato kalo saya dikukus dulu kurleb 10-15 menit. setelah dikukus beri topping mayonaise.
  4. Panggang hingga kekuningan, sajikan hangat dengan saos sambal.
Tapi eh tapi... resepnya agak saya modifikasi. Pertama, setelah dikukus kentang saya hancurkan. Paling enak sih memang nggak sampai hancur banget seperti bubur, tetapi masih ada bongkahan-bongkahan kentang di dalamnya.

Kedua, saya hanya pakai 150 ml susu cair karena menurut saya adonan sudah terlalu lembek. Di percobaan kedua saya memakai kentang lebih banyak (sebelumnya sekitar 4 buah, sekarang 5 buah) dan dengan susu hanya 100 ml saja. Menurut saya hasilnya lebih enak karena hasilnya menjadi lebih padat.

Ketiga... ini belum saya coba sih... tapi sepertinya akan sangat enak kalau ditambahkan saus bechamel di atasnya (nyam!!). Berikut penampilannya:


Friday, April 4, 2014

Pempek Dos

Bismillahirrahmanirrahiim...

Mumpung anak tidur, yuk mari dilanjut posting berikutnya... Hihi.

Di tulisan tentang Kue Talam, saya kayaknya pernah bilang kalau saya suka (pake banget) dengan makanan-makanan tradisional terutama yang bertekstur kenyal. Ongol-ongol, Kue Talam, Cenil, Lemang Tapai, Uli, dsb. Nggak ketinggalan yang asin-asin, Siomay, Pempek, Pangsit, Cireng, dsb. Jadi, saya memang menyimpan obsesi tersendiri untuk membuat makanan-makanan tersebut. Kali ini tentang Pempek.

Saya kurang tau tulisan yang benar itu Pempek atau Mpek-mpek sih? Ya intinya itu lah ya... makanan khas Palembang yang terbuat dari sagu dan ikan. Disajikan dengan Kuah Cuko dalam berbagai bentuk dan isian dan digoreng terlebih dahulu. Nostalgia sedikit, dulu Papah pernah kerja di Palembang selama berbulan-bulan. Kalau pulang beliau pasti bawa Pempek Pak Raden sekotak besar. Katanya sih di Palembang Pak Raden itu tergolong "biasa ajah...". Tapi buat kami mah itu udah kategori enak. Bahkan kami "ngomel" kalau Papah bawa merk yang lebih mahal, karena jumlahnya jadi lebih sedikit, Hihi.

Saya sendiri sudah beberapa kali mencoba membuat Pempek. Dari mulai resep Bu Fatmah, Mbak Ricke, dan resep Pempek Adaan yang saya lupa sumbernya darimana. Kalau soal rasa aja mah boleh diadu sama yang buatan asli Palembang. Tapi saya nggak perna bisa (catet, NGGAK PERNAH) bisa membuat bentuk selain bulat. Padahal kan pingin yang kapal selam... Saya sama sekali nggak tahu gimana caranya membentuk kapal selam dan mengisi telur ke dalam adonan dengan adonan selembek itu. Biasanya berakhir dengan bentuk bulat lagi, bulat lagi...

Untuk bikin bulat sih cukup gampang... tinggal taruh di telapak tangan, remas, dan potong dengan sendok yang sudah dicelup minyak agar mudah terlepas dari sendok.

Setelah sekian kali percobaan yang menghabiskan biaya, akhirnya saya beralih ke Pempek Dos ini. Awalnya memang hanya untuk belajar bagaimana membuat bentuk kapal selam tok. Ternyata rasanya masih lebih enak dibanding Pempek Abang-abang... Hehe. Resepnya konon dari Ny. Liem, tapi saya contek dari blognya Mbak Endang yang super duper lengkap penjelasannya.

Bahan:

  • 250 ml air
  • 2 sdt garam
  • 1,5 sdt kaldu bubuk
  • 125 gr tepung terigu serba guna
  • 2 butir telur
  • 200 gr tepung sagu/tapioka/kanji
Isi: 4 butir telur kocok lepas (sebaiknya telur dipecahkan satu per satu/secukupnya saja)

Kuah Cuko: saya pakai resep Bu Fatmah karena sudah merasa pas dengan rasanya dan membuat 1/5 resep saja.

Bahan:
  • 1 kg gula aren (saya biasa pakai gula palem yang biasa untuk kue itu lho... tapi yang jelas jangan pakai gula jawa ya...)
  • 2 liter air
  • 10 buah bawang putih (haluskan bersama cabe rawit)
  • 100 gr cabe rrawit
  • 40 gr garam
  • s sdm cuka
  • 200 gr asam jawa
Cara membuat: masak semua bahan jadi satu dan saring.

Cara membuat Pempek:

  1. Siapkan panci kecil (sebaiknya gunakan panci anti lengket), masukkan air, garam, dan kaldu bubuk. Masak hingga air mendidih, aduk hingga larut.
  2. Kecilkan api, tambahkan tepung terigu sedikit demi sedikit sambil diaduk cepat menggunakan spatula kayu.
  3. Aduk hingga adonan dan matang. Lakukan dengan cepat karena adonan cepat mengeras dan gosong. Angkat dan biarkan hangat.
  4. Setelah hangat, masukkan telur satu per satu sambil diaduk dengan mixer hingga rata dan tidak bergumpal. Hangatnya harus pas yah, jangan kepanasan atau menunggu dingin.
  5. Campurkan adonan dengan tapioka sedikit demi sedikit. Kalau tepung sudah habis dan masih terasa lengket, sebaiknya jangan ditambahkan tepung lagi. Cukup lumuri tangan dengan sagu sehingga adonan tidak lengket di tangan.
  6. Bentuk sesuai selera.
  7. Masukkan adonan yang sudah dibentuk ke dalam air mendidih dan tunggu hingga adonan mengapung. Angkat dan tiriskan.
  8. Goreng dan sajikan bersama kuah cuko.

Berikut ini gambar saat saya membuat kapal selam:

Pertama, lumuri tangan dengan sagu dan timbang adonan sekitar 50 gram dan bulatkan (untuk ukuran sedang):

Kedua, pipihkam adonan dan bentuk menjadi mangkuk:
 

Ketiga, masukkan telur yang telah dikocok. Lebih banyak tentu lebih enak, tapi daripada mengambil resiko adonan tidak bisa ditutup, saya isi sedikit saja. Hasilnya seperti nggak pakai telur, tipis bangeeet...
 

Keempat, rapatkan mulut mangkuknya. Hati-hati jangan sampai telurnya keluar ya...
 

Dan inilah hasilnya setelah direbus:
Ini di meja dapur yah... bukan di lantai... hehe
Saya hanya punya gambar saat memasaknya saja, hihi. Hasil jadinya cukup pas-pasan untuk berempat. Begitu digoreng langsung serbuuu... dan tukang fotonya pun lupa kalau hasil jadinya belum difoto.
Hasil jadinya memang nggak akan seenak yang menggunakan ikan, tapi sepadan lah dengan biaya yang dikeluarkan. Saran saya sih, jangan bikin satu resep saja kecuali untuk dimakan sendiri.

Selamat mencoba!!

Puding Coklat

Bismillahirrahmanirrahiim...

Puding (dan makanan berbahan dasar agar-agar) mungkin salah satu pencuci mulut yang bikinnya paling gampang. Campur bahan, campur air, rebus, dinginkan *gancil toooh...*
Tapi, sayangnya saya nggak terlalu suka, baik bikinnya maupun makannya. Menurut saya, nggak pernah ada puding yang benar-benar enak yang pernah saya makan... Eh, pernah ding... satu kali: Puding Sutra Mangga buatan Mbak Yuni. Beberapa kali saya berusaha membuatnya kembali dan nggak ada yang oke. Sampai akhirnya saya berkesimpulan: emang puding rasanya gitu, nggak ada yang istimewa.

Kemudian dari hasil browsing sana-sini dan mantengin Milis NCC saya banyak mendapatkan resep-resep termasunk resep Puding Coklat yang katanya nyoklat banget. Singkatnya, ini resep oke banget! Mohon maaf saya lupa ini resep siapa, tapi yang jelas bukan resep saya :), berikut ini resepnya:

Bahan Puding:

  • 1750 ml susu coklat cair (pakai UHT putih juga nggak masalah kok... tapi sebaiknya jangan diganti dengan susu kental manis yang dicairkan, karena setelah saya coba hasilnya lebih cair walaupun dengan volume yang lebih sedikit)
  • 150 gr gula pasir (ini sih sesuai selera... kalau saya biasa pakai 2 sendok makan saja untuk susu putih, rasanya akan cenderung pahit, tapi jadi pas kalau dipasangkan dengan vla yang manis)
  • 50 gr coklat bubuk
  • 2 bungkus agar-agar coklat
  • 250 gr DCC (Dark Cooking Chocolate), cincang.
Bahan Vla:
  • 250 ml susu coklat cair (saya pakai susu UHT putih)
  • 50 gram gula pasir (atau sesuai selera)
  • 2 SDM coklat bubuk (saya nggak pakai)
  • 1 SDM tepung maizena cairkan dengan sedikit air (kalau saya lebih merasa pas kekentalannya dengan 2 SDM tepung maizena)
  • 1 SDM Rhum (saya ganti dengan 1 SDT Vanilla Essence/Vanila Bubuk)
Cara Membuat:
Puding:
  1. Campur susu cair, gula, agar-agar, dan coklat bubuk dan aduk sampai dengan rata.
  2. Masak di atas api sedang. Saat mulai hangat, masukkan DCC cincang. Aduk terus hingga rata.
  3. Masak sampai dengan mendidih kecil. Matikan api.
  4. Tunggu hingga uap panas hilang (jika memakai cetakan plastik). Kalau pakai non plastik sih cuek aja, langsung tuang. Tapi tetap tunggu hingga uap hilang, baru dinginkan di kulkas. Tips dari saya, saat menuang agar-agar, gunakan saringan dengan lubang yang kecil. Selain untuk menyingkirkan adonan yang tidak teraduk rata, dijamin permukaan puding akan mulus!! Gambar yang saya pajang masih kurang mulus karena saat itu belum nemu tipsnya. Hehe.
Vla:
  1. Campur susu dan gula, masak di atas api hingga mendidih kecil.
  2. Masukkan maizena yang telah dicairkan dengan sedikit air.
  3. Aduk terus sampai rata dan mengental.
Sajikan puding dan vla dalam keadaan dingin.

Puding yang ada di foto saya buat untuk ulang tahun adik ipar. Asli kecil-kecilan dan hanya makan puding itu saja, hehe. Semua bilang enyaaaaak!! Awalnya juga saya PD untuk membuat puding ini karena adik ipar saya (yang lain) main ke rumah saat pertama kali saya bikin puding ini untuk Abang (dan katanya dia nggak suka!!). Mereka ketagihan dan minta dibuatkan lagi... jadi sebenarnya momen ulang tahun hanya alasan mereka saja, haha.

Sedikit tips dari Ibu Mertua saya, vla lebih enak kalau pakai sedikit santan dan sedikit air garam. Saya pribadi merasa agak aneh rasanya dan kurang cucok kalau menggunakan santan. Tapi air garam kayaknya boleh juga... entah mengapa rasanya menjadi lebih seimbang :). Takarannya? Mohon maaf, saya juga cuma kira-kira, hehe.

Intinya, puding ini menurut saya puding paling enak yang pernah saya coba... Membuatnya pun gampang banget. Silahkan dicoba di rumah ya :)


Dan ternyata... ketemu foto dengan permukaan puding yang mulus (walaupun kurang fokus). :)


Saturday, January 4, 2014

Triple Chocolate Cake

Bismillahirrahmanirrahiim...

Duh, sebenarnya saya agak bingung memberikan judul untuk tulisan ini. Triple Chocolate Cake adalah nama yang sudah diaku oleh banyak orang dan kemudian saya menjadi salah satu dari mereka. Tapi ada alasannya kok kenapa saya bilang triple. Coklat pertama ada di kue dasarnya, yaitu brownies kukus coklat (resepnya ada di sini ya...). Coklat kedua adalah lapisan ganache siram. Coklat ketiga adalah buttercream coklat yang menjadi hiasannya.

Karena resepnya sudah pernah saya tulis, langsung pamer fotonya saja ya...




Kue ini adalah permintaan dari Ibu Mertua saya untuk dibawa ke acara pengajian salah satu saudara yang besok akan melangsungkan pernikahan. Sebenernya sih... Bunda hanya minta dibuatkan kue potong, tapi saya salah tangkep, jadinya dibuatlah kue yang lumayan caem ini *GR woi...*.

Faktor lain kenapa saya sebegitu semangatnya untuk memberikan dekorasi yang nggak standar adalah karena semalam suami saya dengan gaya cueknya seperti biasa memberikan benda ini:


Aaaa... Saya langsung jerit-jerit. Tadinya pun saya hanya berniat memberikan dekor pinggiran kue bentuk kerang plus buah segar di bagian atas. Tapiii, karena penasaran dengan gadget baru, iseng-iseng saya buat mawar dari buttercream. Sebelumnya memang saya doyan banget mengoleksi berbagai video dari You Tube termasuk dekorasi kue, coklat, dan resep-resep yang membutuhkan perlakuan khusus. Ternyata lumayan berhasil. Salah satu faktor yang membuat mawarnya kurang kokoh adalah tekstur buttercream yang agak lembek. Untuk membuat mawar memang sebaiknya menggunakan tekstur buttercream yang kaku (konon resep buttercream di buku NCC adalah salah satunya).

Nah, terakhir... bolehlah ya... sesekali tukang masaknya nampang di sini (^_^)!





Wednesday, January 1, 2014

Caramel Custard Pudding



Bismillahirrahmanirrahiim...

Dulu… pas masih kuliah, saya pernah membuat puding karamel dengan metode kukus. Pertama, karena cuma tau resep tersebut. Kedua, nggak minat buat nyari resep lain lebih lanjut. Ketiga, nggak punya oven. Kesan saya: trauma. Selain ribed (jaman itu mah masak apaan juga gue ribed, hihi), hasil jadinya bau telor (banget). Intinya, bau amis dan saya nggak kuat makannya.

Karena itulah, saat suami minta dibuatkan puding karamel, bawaannya maleees banget. Udah ngebayangin deh nggak bakal suka sama rasanya. Akhirnya setelah mengumpulkan niat, saya bikin juga puding karamel. Di resep sebenernya nggak pakai tepung custard, tapi karena (akal bulus) pingin menghabiskan tepung custard, jadilah aku masukkan tepung custard, hehe. Ya udah jelas lah ya… teksturnya lebih seperti kue lumpur daripada puding karamel. Selain itu, bikin karamelnya sendiri susaaah… Intinya, hasil akhir belum memuaskan dan masih punya utang ke suami untuk bikin puding karamel yang oke.

Nah, tanggal 20 Desember lalu adik ipar saya menikah dan ada puding karamel di meja pencuci mulut. Karena katering yang dipakai memang beneran oke punya, jadi saya percaya puding karamel ini bisa dijadikan patokan, hehe. Bau telurnya masih ada, tapi nggak sedahsyat hasil eksperimen saya dulu. Kemudian di atasnya ada topping aprikot kalengan yang asem-asem seger. Intinya, enak. Oke deh… saya jadi semangat lagi untuk membuat puding karamel.

Saya nyontek resep dari DapurVanilla yang ternyata asal mulanya dari Sharmi Passion. Mbak Sharmi (orang India kayaknya…) bilang resep ini nggak pernah gagal, langsung ngiler dooooong… Hehe. Ini pendapat saya sih, bikin puding karamel itu gampang, yang susah itu membuat karamel. Alhamdulillah kemarin karamelnya jadi dan bukan seperti permen yang keras, tapi lebih seperti saus… Pokoknya uenaaak. Berikut resepnya ya…

Bahan:
Sirup Karamel:

  • 75 gr gula pasir
  • 3 sdm air panas

Custard:

  • 500 ml susu cair (saya pakai susu kental manis/SKM dengan proporsi 1:4)
  • 50 gr gula pasir (saya pakai 2 sendok makan, atau bisa dicoba sampai dengan sesuai selera)
  • 3 butir telur, kocok lepas
  • ½ sdt vanilla essens (saya pakai bubuk vanilla L’Arome)

Cara Membuat:

  1. Oles mangkuk ramekin dengan margarin tipis-tipis.  Sisihkan.  Panaskan oven dengan suhu 190°C. Saya memakai cup alumunium foil.
  2. Sirup Karamel: lelehkan gula dengan api kecil sampai kuning kecoklatan, tambahkan air, aduk rata.  Matikan api.  Tuang ke ramekin sama banyak.  Sisihkan. Buatan saya cukup untuk 5 cup, tetapi karamelnya nggak cukup euy… padahal sudah aku lebihkan menjadi 100 gram gula. Lain kali akan aku tambah menjadi 125 gram gula. Jangan lupa porsi airnya ditambahkan juga ya…
  3. Custard: panaskan susu dan gula dengan api sedang sambil diaduk-aduk sampai gula larut (tidak perlu sampai mendidih).  Matikan api.
  4. Masukkan telur dan vanilla.  Aduk rata, lalu saring.  Tuang adonan custard ke dalam mangkuk.  Oven dengan suhu 190°C selama 35 – 45 menit dengan metode au bain marie.
  5. Keluarkan pudding dari oven.  Biarkan dingin.  Masukkan ke dalam kulkas dulu sebelum dihidangkan. Hidangkan dengan buah-buahan segar. Menurut saya rasanya menjadi lebih seimbang, karena pudding karamel itu maniiiiis banget.

Oia, berikut ini sedikit tips dari saya (yang sering gagal) saat membuat karamel:

  • Sebaiknya di atas wajan anti lengket dan menggunakan spatula dari bahan silikon, dijamin karamelnya nggak akan nempel-nempel. 
  • Jangan disambi!! Once your caramel become overcooked, you have to make it from the beginning, hihi. 
  • Saat membuat karamel jangan banyak diaduk-aduk, cukup ratakan di wajan. 
  • Jika jumlah air untuk resep karamel dirasa kurang (misalnya ada karamel yang belum larut dan masih bergerindil), silahkan ditambahkan. Nanti airnya akan menguap kok.

Nah, karena puding karamel bukan termasuk dalam resep favorit saya (manis banget, bok), saya pisahkan satu cup untuk dimatangkan dengan cara dikukus supaya saya bisa tahu bedanya tanpa harus bikin dua kali, hehe. Hasilnya? Lebih enak yang dipanggang. Pertama, dari segi tekstur jadinya sangat sangat lembut (padahal yang dipanggang aja udah lembut). Kedua, yang dikukus bau telurnya lebih terasa. Ketiga, yang dikukus menjadi agak berair sedangkan yang dipanggang  kering (dalam artian positif ya...). Tips lainnya, sebaiknya setelah jadi dan didinginkan langsung dihabiskan. Karena kalau disimpan di kulkas terlalu lama (punya saya sekitar 3 hari) jadi berair euy…

Nah, ini dia hasil akhirnya: cantik kaaan? (jarang-jarang muji diri sendiri…hehe)




 Selamat mencoba :)

Cupcake buat Intan - Pennylane Brownies Cupcake

Bismillahirrahmanirrahiim...

Ya... ya... ya... I've never tried to bake Pennylane Brownies (kemane ajeee??). Dan kemudian tibalah hari di mana Intan (salah seorang rekan di SDM) harus pindah ke tempat yang Insya Allah lebih baik :). Sebagai penghargaan dan tanda sayang *taelah* saya berniat untuk membuatkannya kue. Seperti biasa, pertimbangan saya untuk membuat kue adalah bahan apa yang ada di rumah dan bahan apa yang nyisa :p. Gapapa lah ya... yang penting kan biar nggak mubazir.

Akhirnya saya putuskan untuk membuat Pennylane Brownies yang dipanggang di dalam papercup kemudian dihias dengan buttercream sisa orderan. Entahlah... apakah memang jadinya seperti itu atau nggak, tapi menurut saya hasil jadinya kurang legit (yap, saya penggemar kue yang lembab). Tapi dari segi rasa oke lah... Menurut suami dan teman-teman enak (memang agak jadi terlalu kritis yah kalo sering masak kue, hehe).

Berikut ini resep Pennylane Brownies dari Mbak Riana Ambarsari:

Bahan:

  • 4 butir telur
  • 360 gram gula pasir (saya pakai 200 gram saja dan sudah pas menurut saya...)
  • 225 gram minyak goreng
  • 60 gram cocoa powder
  • 210 gram tepung terigu
  • ½ sdt garam
  • 1 sdt vanili bubuk
  • 120 gram kenari/kacang tanah/mede cincang dan sangrai
  • 85 gram Chocolate Chips
Cara Membuat:
  1. Panaskan oven suhu 180C, alasi loyang dengan kertas roti dan olesi dengan margarin atau minyak goreng. Pastikan oven sudah cukup panas sewaktu adonan dimasukkan. Oven yang sudah cukup panas akan memunculkan lapisan coklat tipis transparan di permukaan brownies, membuat tampilan brownies semakin cantik. Kalau suhu oven kurang panas, lapisan ini tidak akan muncul (dan punya saya nggak keluar thin crust-nya... berarti masih harus coba lagi, hehe)
  2. Campurkan terigu, cokelat bubuk, sisihkan
  3. Kocok telur dan gula sampai mengental (supaya muncul lapisan kilapnya), masukkan vanili dan garam. Bisa jadi Pennylane Brownies buatan saya belum sempurna karena tidak cukup kental.
  4. Masukkan campuran tepung terigu dan cokelat bubuk sambil diaduk perlahan dengan spatula sampai rata.
  5. Masukkan minyak sambil diaduk perlahan. Lalu masukkan chocolate chips
  6. Tuang dalam loyang dua loyang ukuran 30 x 10cm. Taburi kacang almond slices di seluruh permukaannya. Hasil akhir kurang lebih 20 cup.
  7. Panggang kurang lebih 35 menit sampai muncul lapisan mengkilat di permukaan
  8. Angkat dan dinginkan.
Buttercream-nya pakai sisa orderan dari Dewi. Supaya tetap fluffy, setelah mencapai suhu ruang buttercream harus dikocok kembali, kalau nggak bakal susah di-spuit. Oia, sebenarnya buttercream-nya terdiri dari 2 warna, biru dan merah. Keduanya saya campur dan menghasilkan warna ungu yang manis (yeay!). Enjoooy!!


Cupcakes (masih) di Milad Abang

Bismillahirrahmanirrahiim...

Nyambung dengan posting sebelumnya, pingin berbagi masakan kedua yang saya buat: Vanilla Cupcake with Buttercream Frosting. Tujuan buat cupcake sebenarnya cuma satu: supaya bocah-bocah nggak rebutan. Selain itu, buatnya super gampang... hihi. Nggak perlu acara lapis-lapis buttercream dan belepotan, hehe.

Kali ini saya coba resep Smooth Butter Cake-nya Bu Peni Respati. Sejauh ini saya masih nyari resep cupcake yang lembab dan lembut. Smooth Butter Cake ini seperti namanya, emang beneran lembut!! Tapi bukan tipe kue yang lembab seperti yang saya inginkan (kayaknya lain kali mau coba Eggless Moist Cake yang resepnya lagi seliwar seliwer di group FB). Tapi untuk buttercake, resep ini the best lah pokoknya. Karena kue ini kokoh, ngembangnya bagus, dan lembut. Plus nggak terlalu berat (secoro pakai buttercream juga...) tapi tetap mengenyangkan. Berikut resepnya:

Bahan:
  • 300 gram Mentega/margarin
  • 150 gram Gula pasir halus
  • 8 buah Kuning telur
  • 250 gram Tepung protein sedang
  • 25 gram Tepung maizena
  • 1 sdt  Baking powder double acting (nggak pakai)
  • 50 ml  Susu cair (nggak pakai juga... karena nggak pernah bikin buttercake pakai susu, jadilah kelupaan untuk beli, hehe)
  • 6 butir Putih telur
  • 50 gram Gula pasir halus
  • 1/2 sdt  Pasta vanila
Cara Membuat:
  1. Kocok mentega dan 150 gram gula pasir hingga lembut (kalau patokanku, pokoknya sampai lembut dan mengembang dengan tekstur mirip buttercream)
  2. Tambahkan kuning telur satu per satu, kocok hingga tercampur rata
  3. Masukkan tepung terigu, maizena dan baking powder sambil diayak. Lakukan secara bergantian dengan susu cair. Kocok hingga rata.
  4. Di tempat terpisah, kocok putih telur dan 50 gram gula pasir. Masukkan ke dalam adonan tepung terigu, aduk rata.
  5. Terakhir tambahkan pasta vanila, aduk rata.
  6. Masukkan adonan ke dalam papercup. Isi 3/4 papercup (kalau saya patokannya adalah satu scoop es krim), kemudian panggang adonan di dalam oven paha suhu 160 °C selama 30 menit (kalau saya... dengan suhu sekitar 170 - 180 derajat celcius kurang lebih selama 30 menit).
Karena saya pakai Margarita, cupcake  ini wangi banget! Selama dipanggang mungkin tetangga sudah mengendus-endus :)
Setelah dingin, pekerjaan selanjutnya adalah menghias cupcake dengan buttercream. Resep buttercream yang saya pakai adalah resep milik Mbak Afi di sini: Resep Buttercream Yummy dengan Coklat. Proses membuat buttercream ini absurd deh pokoknya... Karena menurut saya hasil buttercream-nya terlalu lembek, jadilah saya tambahkan dengan whip cream cair dan... ternyata hasilnya nggak jauh beda, haha. Tapi soal rasa, cukup enak...

Semprot-semprot dengan 1M, dan tadaaa...



Tabur Bubuk Oreo biar nggak polos-polos amat :p
Yap, ini adalah masakan kedua yang saya buat untuk Milad Abang. Ketiga adalah bakso, tapi... berhubung baksonya beli jadi dan yang saya lakukan hanya merebus tulang iga dan cemplung bawang dan lada... nggak usah dibahas lah ya... Keempat adalah BDCK (Birthday Cake), tapi karena keterbatasan waktu nggak sempat saya apa-apain... hihi *masih utang kue karakter nih sama Abang :(*

Selamat makaaaaan... )