Showing posts with label Savoury. Show all posts
Showing posts with label Savoury. Show all posts

Wednesday, October 29, 2014

Pempek Nasi

Bismillahirrahmanirrahiim...

Yak, mumpung kita orang lagi rajin masak... marilah lanjut ke masakan selanjutnya, hehe.
Kali ini, seperti judul di atas: Pempek Nasi.
Sekitar dua minggu sebelum ini saya juga mencoba membuat pempek dengan resep dari blog Just Try and Taste. Sepertinya sih... pempek kalau perbandingan ikan dan tepungnya minimal 1:1 Insya Allah rasanya oke laaah...

Tapi rasa oke aja kan nggak cukup yaaa... penampilan juga mesti sedap dipandang. Nah, boleh dibilang kapal selam adalah musuh saya. Hehe. Terakhir kali bikin kapal selam yang agak sukses ya waktu bikin Pempek Dos. Itu juga isian telurnya dikiiit, saking takut telurnya keluar.

Percobaan kedua kali membuat kapal selam saat tiba-tiba kangen makan pempek di Adelaide sini. Ya kali tinggal di Warung Buncit bisa langsung capcus ke Pak Raden kalau pingin banget makan pempek. Lha di sini?

Bahan-bahan sudah disiapkan. Tapi ikan tenggiri saya ganti dengan basa fillet *ya... biasa lah... alasan finansial... hihi*. Sedangkan tepung sagu saya ganti dengan tepung tapioka produk dari Thailand. Oia, ikan basa ini kalau menurut Mbah Google adalah sejenis ikan patin. Untuk rasa jelas nggak segurih tenggiri. Tapi masih okelah... supaya lebih sedap saya tambahkan sedikit kaldu blok.

Namun, apalah mau dikata... percobaan pertama membuat pempek di negeri seberang berakhir gatot (buat saya, kalau suami ganteng mah bilangnya enak-enak aja *bingung deh... nggak pernah berbulan-bulan dapet oleh-oleh Pak Raden kali ya...*). Pertama, hasil jadinya kenyal banget. Bener-bener kayak makan aci dipulung-pulung aja gituh... Perkiraan saya sih ini akibat tepung tapiokanya yang mungkin jenis atau komposisi bahannya agak berbeda (udah, kapok... lain kali pakai Sagu Tani atau paling nggak tapioka asal Indonesia sajah). Kedua, ya... kegagalan bikin kapal selam tadi yang bikin boros telur dan dapur berantakan nggak karuan (kalau bentuk pempeknya mah udah jelas kacau). Bad mood juga katanya kan ngaruh tuh sama rasa masakan... pokoknya nggak sedep lah. Ketiga, kuah cukonya diganti dengan kuah martabak yang masih sisa... nggak cocok lah menurut saya...

OOT dikit, ikan basa yang saya beli ini berakhir agak mengenaskan. Karena selain berakhir menjadi pempek gagal, sisanya juga berakhir menjadi otak-otak gagal. Hehe.

Nah, saking penasaran gimana bikin pempek kapal selam... saya googling ke sana ke mari. Dan sambil memanfaatkan nasi sisa (sayang banget kan kalau pakai ikan terus gagal...), jadilah Pempek Nasi!! Berhasil nggak bikin kapal selamnya?


Cukup oke lah ya? Hahaha... *ketawa puas banget!!*

Terus resep mana reseeep? Hehe...
Sebelum resep, review hasilnya dulu ya... Karena menggunakan cukup banyak terigu, jadi secara tekstur menurut saya lebih oke dibandingkan Pempek Dos (nggak terlalu kenyal).
Nasinya sih nggak kerasa... lebih seperti nambahin bahan aja... hehe.
Tapi kalau Anda punya nasi sisa dan udah bosen dengan nasi bakar atau nasi goreng, bolehlah coba resep ini kalau mau sedikit lebih repot. Hehe.

Resep saya ambil dari blog ini.

Pempek Nasi:

1 cup nasi
1 cup tepung terigu
1 cup air
garam (saya pakai 1 SDM)
1/6 cup minyak goreng
1 butir telur
200 gram Sagu Tani (Adanya cuma Tapioka Pak Tani, akhirnya pakai itu...)

Cara Membuat:

  1. Campur nasi, tepung terigu, air, dan garam dalam panci aduk rata. Setelah rata hidupkan api, aduk adonan nasi sampai adonan menyatu dan terasa berat, matikan api.
  2. Masukkan minyak goreng, aduk rata sampai adonan nasi dingin, setelah itu masukkan telur satu persatu, aduk rata.
  3. Terakhir masukkan sagu sedikit demi sedikit sambil diuleni pakai tangan (saya selalu dan selalu pakai spatula) sampai adonan tidak lengket ditangan (kalis)
  4. Bentuk sesuai selera
  5. Rebus dalam air mendidih sampai mengapung. Angkat (tunggu beberapa waktu setelah pempek mengapung untuk meyakinkan bahwa bagian dalam benar-benar matang) . Tiriskan.
  6. Goreng pempek nasi dengan minyak panas, goreng sebentar. Angkat. Tiriskan.

Untuk Kuah Cuko saya memakai resep dari NCC:

Bahan (hanya membuat seperlima resep):

1 kg gula aren
2 liter air
10 buah bawang putih
250 gram cabe rawit (pakai sambal buatan pabrik karena nggak punya cabai rawit. Hasilnya puedess buangett menurut saya... Lain kali akan saya kurangi setengahnya saja atau sesuai selera. Untuk menetralisir saya tambahkan 2 SDM kecap manis)
40 gram garam
5 SDM cuka atau 200 gram asam jawa

Cara membuatnya:

Masak semua bahan menjadi satu.
Kemudian saring.

Selamat mencoba!!
Salam!!

Saturday, October 18, 2014

Baked Potato

Bismillahirrahmanirrahiim...

Alhamdulillah akhirnya bisa posting lagi di Cake & Friends. Terakhir kali saya posting di sini adalah tanggal 4 April 2014 saat membuat Pempek Dos. Itu artinya sudah 6 bulan lebih aja gitu saya nggak update blog. Huhu... maaf ya blogku sayang...

Sebenarnya sih ada juga kue atau masakan yang saya buat. Saat lebaran kemarin pun saya cukup banyak membuat kue untuk di rumah Mamah dan dibagikan ke saudara-saudara dekat. Di antara semuanya yang paling menuai penggemar adalah Choco Chips Cookies Putih Telur. Nggak nyangka sih sebenarnya... karena hampir saja itu kue nggak saya pajang karena bentuknya kurang oke. Tapi rasanya ternyata enyak!!

Oh iya... dari mulai bulan Juli saya juga tinggal di rumah mertua. Otomatis kegiatan baking dan cooking juga jadi berkurang karena alat dan bahan semuanya ada di rumah. Selain itu saya juga masih berjibaku dengan urusan keberangkatan ke Adelaide.

Alhamdulillah, tanggal 6 September 2014 saya sampai di Adelaide. Masakan yang saya buat ya kebanyakan untuk makan sehari-hari dan sarapan. Kebetulan juga baru mendapat akomodasi tetap tanggal 23 September. Jadi belum banyak bereksperimen dengan resep-resep baru.

Tinggal di negara di mana makanan halal (dan murah) tidak mudah didapatkan, membuat saya masak terus. Hehe. Seneng sih... tapi kadang kehabisan ide juga. Dan berhubung alat-alat masak masih terbatas, biasanya saya memanfaatkan sebisa mungkin perlengkapan dan bahan-bahan yang ada. Untungnya suda ada built-in oven. Untuk masakan sih lebih gampang karena bisa mengira-ngira suhunya. Tapi kalau untuk kue memang harus banya dipakai sehinga terbiasa dengan pengaturan suhunya. Apalagi di oven tidak ada termometernya.

Di sini juga makanan dieman-eman bangeeet nget. Bukan sedikit makannya, tapi jangan sampai makanan yang sudah dibeli atau dibuat sampai dibuang atau tidak habis. Kesannya ngirit banget (emang iya sih...). Tapi disadari atau nggak sebelumnya saya suka menggampangkan hal tersebut karena merasa makanan bisa didapatkan dengan mudah.

Halah... jadi ngelantur ke mana-mana... Intinya sih cuma mau laporan hasil percobaan Baked Potato ala Mbak Besta yang resepnya ada di Group FB NCC. Berikut adalah resep aslinya:

Bahan :


  • 1 kg kentang kukus, kupas, potong2
  • 500 ml susu UHT Tawar
  • 2-3 butir telur kocok lepas
  • 3 sdm terigu
  • Sosis/smoked beef/corned secukupnya
  • 1 buah bawang bombay dicincang, tumis hingga harum
  • Garam, gula, lada, keju sesuai selera
  • Mayonaise tahan panggang secukupnya


Cara membuat :

  1. Campur susu, telur, terigu, bawang bombay, dan bumbu. Aduk rata dengan whisk
  2. Oles loyang/pinggan dengan margarine, tata 1/2 bagian potongan kentang dan sosis, siram dg 1/2 bagian bahan cair, beri keju. tata lagi sisa kentang dan sosis, siram dg sisa bahan cair, taburi keju.
  3. Bisa langsung dipanggang ato kalo saya dikukus dulu kurleb 10-15 menit. setelah dikukus beri topping mayonaise.
  4. Panggang hingga kekuningan, sajikan hangat dengan saos sambal.
Tapi eh tapi... resepnya agak saya modifikasi. Pertama, setelah dikukus kentang saya hancurkan. Paling enak sih memang nggak sampai hancur banget seperti bubur, tetapi masih ada bongkahan-bongkahan kentang di dalamnya.

Kedua, saya hanya pakai 150 ml susu cair karena menurut saya adonan sudah terlalu lembek. Di percobaan kedua saya memakai kentang lebih banyak (sebelumnya sekitar 4 buah, sekarang 5 buah) dan dengan susu hanya 100 ml saja. Menurut saya hasilnya lebih enak karena hasilnya menjadi lebih padat.

Ketiga... ini belum saya coba sih... tapi sepertinya akan sangat enak kalau ditambahkan saus bechamel di atasnya (nyam!!). Berikut penampilannya:


Friday, April 4, 2014

Pempek Dos

Bismillahirrahmanirrahiim...

Mumpung anak tidur, yuk mari dilanjut posting berikutnya... Hihi.

Di tulisan tentang Kue Talam, saya kayaknya pernah bilang kalau saya suka (pake banget) dengan makanan-makanan tradisional terutama yang bertekstur kenyal. Ongol-ongol, Kue Talam, Cenil, Lemang Tapai, Uli, dsb. Nggak ketinggalan yang asin-asin, Siomay, Pempek, Pangsit, Cireng, dsb. Jadi, saya memang menyimpan obsesi tersendiri untuk membuat makanan-makanan tersebut. Kali ini tentang Pempek.

Saya kurang tau tulisan yang benar itu Pempek atau Mpek-mpek sih? Ya intinya itu lah ya... makanan khas Palembang yang terbuat dari sagu dan ikan. Disajikan dengan Kuah Cuko dalam berbagai bentuk dan isian dan digoreng terlebih dahulu. Nostalgia sedikit, dulu Papah pernah kerja di Palembang selama berbulan-bulan. Kalau pulang beliau pasti bawa Pempek Pak Raden sekotak besar. Katanya sih di Palembang Pak Raden itu tergolong "biasa ajah...". Tapi buat kami mah itu udah kategori enak. Bahkan kami "ngomel" kalau Papah bawa merk yang lebih mahal, karena jumlahnya jadi lebih sedikit, Hihi.

Saya sendiri sudah beberapa kali mencoba membuat Pempek. Dari mulai resep Bu Fatmah, Mbak Ricke, dan resep Pempek Adaan yang saya lupa sumbernya darimana. Kalau soal rasa aja mah boleh diadu sama yang buatan asli Palembang. Tapi saya nggak perna bisa (catet, NGGAK PERNAH) bisa membuat bentuk selain bulat. Padahal kan pingin yang kapal selam... Saya sama sekali nggak tahu gimana caranya membentuk kapal selam dan mengisi telur ke dalam adonan dengan adonan selembek itu. Biasanya berakhir dengan bentuk bulat lagi, bulat lagi...

Untuk bikin bulat sih cukup gampang... tinggal taruh di telapak tangan, remas, dan potong dengan sendok yang sudah dicelup minyak agar mudah terlepas dari sendok.

Setelah sekian kali percobaan yang menghabiskan biaya, akhirnya saya beralih ke Pempek Dos ini. Awalnya memang hanya untuk belajar bagaimana membuat bentuk kapal selam tok. Ternyata rasanya masih lebih enak dibanding Pempek Abang-abang... Hehe. Resepnya konon dari Ny. Liem, tapi saya contek dari blognya Mbak Endang yang super duper lengkap penjelasannya.

Bahan:

  • 250 ml air
  • 2 sdt garam
  • 1,5 sdt kaldu bubuk
  • 125 gr tepung terigu serba guna
  • 2 butir telur
  • 200 gr tepung sagu/tapioka/kanji
Isi: 4 butir telur kocok lepas (sebaiknya telur dipecahkan satu per satu/secukupnya saja)

Kuah Cuko: saya pakai resep Bu Fatmah karena sudah merasa pas dengan rasanya dan membuat 1/5 resep saja.

Bahan:
  • 1 kg gula aren (saya biasa pakai gula palem yang biasa untuk kue itu lho... tapi yang jelas jangan pakai gula jawa ya...)
  • 2 liter air
  • 10 buah bawang putih (haluskan bersama cabe rawit)
  • 100 gr cabe rrawit
  • 40 gr garam
  • s sdm cuka
  • 200 gr asam jawa
Cara membuat: masak semua bahan jadi satu dan saring.

Cara membuat Pempek:

  1. Siapkan panci kecil (sebaiknya gunakan panci anti lengket), masukkan air, garam, dan kaldu bubuk. Masak hingga air mendidih, aduk hingga larut.
  2. Kecilkan api, tambahkan tepung terigu sedikit demi sedikit sambil diaduk cepat menggunakan spatula kayu.
  3. Aduk hingga adonan dan matang. Lakukan dengan cepat karena adonan cepat mengeras dan gosong. Angkat dan biarkan hangat.
  4. Setelah hangat, masukkan telur satu per satu sambil diaduk dengan mixer hingga rata dan tidak bergumpal. Hangatnya harus pas yah, jangan kepanasan atau menunggu dingin.
  5. Campurkan adonan dengan tapioka sedikit demi sedikit. Kalau tepung sudah habis dan masih terasa lengket, sebaiknya jangan ditambahkan tepung lagi. Cukup lumuri tangan dengan sagu sehingga adonan tidak lengket di tangan.
  6. Bentuk sesuai selera.
  7. Masukkan adonan yang sudah dibentuk ke dalam air mendidih dan tunggu hingga adonan mengapung. Angkat dan tiriskan.
  8. Goreng dan sajikan bersama kuah cuko.

Berikut ini gambar saat saya membuat kapal selam:

Pertama, lumuri tangan dengan sagu dan timbang adonan sekitar 50 gram dan bulatkan (untuk ukuran sedang):

Kedua, pipihkam adonan dan bentuk menjadi mangkuk:
 

Ketiga, masukkan telur yang telah dikocok. Lebih banyak tentu lebih enak, tapi daripada mengambil resiko adonan tidak bisa ditutup, saya isi sedikit saja. Hasilnya seperti nggak pakai telur, tipis bangeeet...
 

Keempat, rapatkan mulut mangkuknya. Hati-hati jangan sampai telurnya keluar ya...
 

Dan inilah hasilnya setelah direbus:
Ini di meja dapur yah... bukan di lantai... hehe
Saya hanya punya gambar saat memasaknya saja, hihi. Hasil jadinya cukup pas-pasan untuk berempat. Begitu digoreng langsung serbuuu... dan tukang fotonya pun lupa kalau hasil jadinya belum difoto.
Hasil jadinya memang nggak akan seenak yang menggunakan ikan, tapi sepadan lah dengan biaya yang dikeluarkan. Saran saya sih, jangan bikin satu resep saja kecuali untuk dimakan sendiri.

Selamat mencoba!!

Wednesday, December 25, 2013

Tumpeng Nasi Kuning di Milad Abang

Bismillahirrahmanirrahiim...

Ternyata semangat masak nggak selalu diimbangi dengan semangat untuk mendokumentasikan hasil masakan. Ternyata (lagi) semangat mendokumentasikan hasil masakan nggak selalu diimbangi dengan semangat untuk posting di blog *melengos liat foto-foto kue...*

Yak, dengan mengumpulkan mood yang terserak, mari kita mulai tulisan pertama: Tumpeng Nasi Kuning.

Sebenernya saya nih bukan tipe orang yang bersemangat buat merayakan ulang tahun (apalagi kalo keluar banyak duit, hehe). Tapi dengan beberapa pertimbangan akhirnya jadi juga mengundang keluarga inti dan teman-teman Abang untuk makan-makan di rumah. Aslik, nggak banyak... cuma sekitar 11 orang. Ngundangnya pun cuma modal mulut doang nggak pake undangan. Ndilalah tetep pada bawa kado juga... *Alhamdulillah*

Masalah selanjutnya adalah... pada mau dikasih makan apakah para tetamu ini? Kue mah udah biasa ya... Salah satu yang cukup menjadi obsesi buat saya adalah tumpeng nasi kuning. Ngebayangin cara bikinnya aja mungkin udah males duluan. Tapi setelah baca resepnya Bu Fatmah kayaknya nggak terlalu sulit juga... Tapi tahu dong ya... kalo nasi kuning nggak mungkin manggung sendirian. Musti ditemenin sama (paling nggak) ayam goreng, telur dadar iris, tempe orek kering, perkedel, dan bihun/mie goreng. Bunda bahkan bilang mustinya pake urap. Bahan udah dibeli seh... tapi berhubung menganut asas demokrasi (Mamah dan Mpok sepakat Nasi Kuning nggak pake urap) dan sederhanainajaisasi, selamat tinggal urap...!! Baru ngeh kemudian kalo di resep NCC juga pake U-R-A-P.

Okay, cerita akan saya mulai dari mulai... cari resep. Taulahya... cari ke mana lagi kalo bukan NCC. Berikut resep dari Bu Fatmah:

Bahan :

  • 800 gr beras putih
  • 200 gr beras ketan
  • 1200 ml santan
  • 1 sdm kunyit halus
  • 2 sdm garam
  • 4 lbr daun salam
  • 1 lbr daun pandan
  • 2 btg sereh
  • 1 sdm air jeruk nipis (lupa dimasukin... secara rasa kayaknya nggak ngaruh banyak).

Cara Membuat :

  • Campur beras dan beras ketan, cuci bersih tiriskan, kukus (saya mengukus kurang lebih selama 30 menit).
  • Sementara itu campur kunyit dan santan, saring, buang ampas kunyit. Masak bersama daun salam, pandan dan sereh. Tambahkan garam. Masak tersu hingga mendidih. Matikan api.
  • Masukkan beras yg masih panas kedalam santan, aduk rata. Biarkan hingga santan terserap habis, dan beras menjadi aron. Tuangi air jeruk nipis. Aduk rata.
  • Kukus beras aron selama 20 menit, angkat (atau sampai masak... coba tes nasi yang di bagian dalam, sudah cukup matang atau belum). Cetak dalam cetakan tumpeng, yang ujung lancipnya sudah dialas daun pisang dan dipoles sedikit minyak sayur.
Saya buat 2 resep. Satu untuk tumpeng dan satu lagi untuk dibungkus dan dibagikan. Oia, saat mencampur beras kukus ke dalam adonan menurut saya airnya kurang, sehingga saya tambahkan lagi dengan santan. Emang sotoy... Nasi Kuning saya sukses kepulenan. Alhamdulillah masih enak dan menuai pujian, tapi saya bisa bilang resep ini udah ciamik dan nggak usah diapa-apain lagi, kecuali warna kuningnya yang menurut saya kurang jreng, jadi silahkan ditambahkan kembali.

Namanya juga belum pengalaman bikin hajatan yah... Tadinya saya nggak niat bikin tumpeng, hanya sekedar bkin nasi kuning untuk dibagikan ke tetangga. Ndilalah nasi masih banyak dan sudah beli cetakan tumpeng sehari sebelumnya. Coba-coba dicetak, ternyata cukup!! Masalahnya, saya hanya punya ayam 2 ekor. Udah pasti nggak cukup kalau disajikan dan dimasukkan ke bungkusan. Terpaksa nasi yang dibawa pulang nggak pake ayam ya adek-adek... :(

Oia, berikut ini tautan tentang tips persiapan membuat nasi kuning yang TIDAK saya baca sebelumnya: Tumpeng Nasi Kuning NCC. Jadi sebelum mulai harus atur strategi dulu deh... Ini strategi ala saya:
Acara hari Minggu, saya belanja semua keperluan di hari Sabtu.
Ayam goreng bisa diungkep di hari sebelumnya. Bumbunya? "Bu, bumbu ayam dua ekor, ya!!" alias... bumbu jadi di tukang bumbu dapur giling, haha. Saya ungkep dengan air kelapa dalam waktu yang lama. Hasilnya enak dan empuk banget.
Perkedel dan tempe orek dibuat sehari sebelumnya. Perkedel disimpan di freezer karena menggunakan telur. Takut basi bo...
Campuran santan juga dibuat sehari sebelumnya. Jangan lupa diangetin ya...
Saya juga sudah membuat bumbu dasar dan ditumis untuk membuat tempe orek dan bihun goreng. Jadi nanti tinggal osreng-osreng sajah. Jangan lupa bahan-bahan disiangi dan dipotong sesuai kebutuhan ya... Biar nanti masak kayak Mbak-mbak di TV yang tinggal cemplang-cemplung aje...

Dan, tadada... ini dia hasilnya!! *kibas jilbab*



Yah, begitulah hasilnya... Jangan bingung sama latarnya yang berantakan karena meja tempat menaruh tumpeng ini adalah satu-satunya meja yang saya punya. Ditambah keadaannya lagi ribed pula menyiapkan hidangan yang lain. Masih jauh dari oke sebenernya... Tapi saya seneng udah nyoba. Ibaratnya nih, bisa naik level... hihi.

Sooo... ayo dong yang pingin berbaik hati jadi fasilitator latihan saya selanjutnya, pesen Tumpeng ke saya yuuuk :D

Sunday, November 3, 2013

Macaroni Schotel


Bismillahirrahmanirrahiim...

Duluuu jaman sebelum nikah penasaran banget bikin Macaroni Schotel. Sayangnya waktu itu belum punya oven... Setelah nikahpun nggak langsung punya oven, padahal masih pingin bikin Macaroni Schotel sendiri. Setelah cari-cari resep, ternyata Macaroni Schotel bisa dikukus, hag... hag... ke mana aja tho Nduk...

Saya juga pernah nulis tentang Macaroni Schotel di blog satu lagi. Tapi waktu itu belum dapet resep Macaroni Schotel yang mudah, gampang diingat, dan... enak tentunya... Akhirnya setelah berkali-kali bikin dengan resep yang berganti-ganti, inilah resep hasil utak-atik sendiri yang menurut saya paling pas:

Bahan:
  • Minyak/Margarin untuk menumis dan merebus macaroni
  • 1 buah bawang bombay ukuran sedang
  • 2 siung bawang putih
  • 150 gram daging sapi cincang sangrai. Bisa diganti dengan daging untuk burger atau daging lainnya seperti tuna kalengan atau ayam. Yang jelas makin banyak makin enak. Oia, berhubung saya suka merebus duluan daging sapi cincang untuk stok, daging rebusan ini biasanya saya ulek sampai halus, baru kemudian ditumis.
  • 250 ml susu UHT/air kaldu
  • 112,5 gram macaroni elbow (angkanya nyebelin, tetapi ini adalah setengah dari netto 1 bungkus macaroni La F**te)
  • 3 butir telur
  • 1 sdt oregano kering
  • 1 sdt lada
  • 1/2 sdm garam (atau sesuai selera)
  • Keju cheddar atau mozarella untuk taburan.
Cara membuat:
  1. Rebus macaroni dengan air dan minyak hingga 3/4 matang.
  2. Tumis bawang bombay dan bawang putih sebentar.
  3. Masukkan daging dan tumis hingga bawang layu
  4. Masukkan oregano, garam, dan lada. Matikan api.
  5. Masukkan susu/air kaldu, telur, dan macaroni. Aduk rata.
  6. Siapkan oven dengan suhu 190 derajat celcius (saya biasanya pakai api atas bawah)
  7. Panggang dengan loyang 18 x 18 atau 15 x 25 kurang lebih selama 40 menit hingga matang.
  8. Setelah 20 menit, keluarkan sebentar dan taburi keju parut, kemudian panggang kembali hingga matang.
Yap, kebetulan malam ini habis buat Macaroni Schotel untuk makan malam. Setelah matang langsung minta Ayah untuk memfoto hasil masakan yang dituruti dengan bibir manyun karena sudah nggak sabar mau menikmati Macaroni Schotelnya :) Alhamdulillah langsung habis, hehe.

Bagaimanapun campuran daging, susu, dan keju pasti enak. Makanya jangan sampai salah masaknya ya... Hehe. Saya juga kurang suka penambahan terigu karena bikin Macaroni Schotel jadi terlalu padat. Waktu perpisahan dengan teman-teman kantor saya bawa 2 loyang Macaroni Schotel. Alhamdulillah semua bilang enak yang dibuktikan dengan Bu S**i yang bolak-balik nambah. Hehe.

Selamat mencoba :)