Friday, April 4, 2014

Pempek Dos

Bismillahirrahmanirrahiim...

Mumpung anak tidur, yuk mari dilanjut posting berikutnya... Hihi.

Di tulisan tentang Kue Talam, saya kayaknya pernah bilang kalau saya suka (pake banget) dengan makanan-makanan tradisional terutama yang bertekstur kenyal. Ongol-ongol, Kue Talam, Cenil, Lemang Tapai, Uli, dsb. Nggak ketinggalan yang asin-asin, Siomay, Pempek, Pangsit, Cireng, dsb. Jadi, saya memang menyimpan obsesi tersendiri untuk membuat makanan-makanan tersebut. Kali ini tentang Pempek.

Saya kurang tau tulisan yang benar itu Pempek atau Mpek-mpek sih? Ya intinya itu lah ya... makanan khas Palembang yang terbuat dari sagu dan ikan. Disajikan dengan Kuah Cuko dalam berbagai bentuk dan isian dan digoreng terlebih dahulu. Nostalgia sedikit, dulu Papah pernah kerja di Palembang selama berbulan-bulan. Kalau pulang beliau pasti bawa Pempek Pak Raden sekotak besar. Katanya sih di Palembang Pak Raden itu tergolong "biasa ajah...". Tapi buat kami mah itu udah kategori enak. Bahkan kami "ngomel" kalau Papah bawa merk yang lebih mahal, karena jumlahnya jadi lebih sedikit, Hihi.

Saya sendiri sudah beberapa kali mencoba membuat Pempek. Dari mulai resep Bu Fatmah, Mbak Ricke, dan resep Pempek Adaan yang saya lupa sumbernya darimana. Kalau soal rasa aja mah boleh diadu sama yang buatan asli Palembang. Tapi saya nggak perna bisa (catet, NGGAK PERNAH) bisa membuat bentuk selain bulat. Padahal kan pingin yang kapal selam... Saya sama sekali nggak tahu gimana caranya membentuk kapal selam dan mengisi telur ke dalam adonan dengan adonan selembek itu. Biasanya berakhir dengan bentuk bulat lagi, bulat lagi...

Untuk bikin bulat sih cukup gampang... tinggal taruh di telapak tangan, remas, dan potong dengan sendok yang sudah dicelup minyak agar mudah terlepas dari sendok.

Setelah sekian kali percobaan yang menghabiskan biaya, akhirnya saya beralih ke Pempek Dos ini. Awalnya memang hanya untuk belajar bagaimana membuat bentuk kapal selam tok. Ternyata rasanya masih lebih enak dibanding Pempek Abang-abang... Hehe. Resepnya konon dari Ny. Liem, tapi saya contek dari blognya Mbak Endang yang super duper lengkap penjelasannya.

Bahan:

  • 250 ml air
  • 2 sdt garam
  • 1,5 sdt kaldu bubuk
  • 125 gr tepung terigu serba guna
  • 2 butir telur
  • 200 gr tepung sagu/tapioka/kanji
Isi: 4 butir telur kocok lepas (sebaiknya telur dipecahkan satu per satu/secukupnya saja)

Kuah Cuko: saya pakai resep Bu Fatmah karena sudah merasa pas dengan rasanya dan membuat 1/5 resep saja.

Bahan:
  • 1 kg gula aren (saya biasa pakai gula palem yang biasa untuk kue itu lho... tapi yang jelas jangan pakai gula jawa ya...)
  • 2 liter air
  • 10 buah bawang putih (haluskan bersama cabe rawit)
  • 100 gr cabe rrawit
  • 40 gr garam
  • s sdm cuka
  • 200 gr asam jawa
Cara membuat: masak semua bahan jadi satu dan saring.

Cara membuat Pempek:

  1. Siapkan panci kecil (sebaiknya gunakan panci anti lengket), masukkan air, garam, dan kaldu bubuk. Masak hingga air mendidih, aduk hingga larut.
  2. Kecilkan api, tambahkan tepung terigu sedikit demi sedikit sambil diaduk cepat menggunakan spatula kayu.
  3. Aduk hingga adonan dan matang. Lakukan dengan cepat karena adonan cepat mengeras dan gosong. Angkat dan biarkan hangat.
  4. Setelah hangat, masukkan telur satu per satu sambil diaduk dengan mixer hingga rata dan tidak bergumpal. Hangatnya harus pas yah, jangan kepanasan atau menunggu dingin.
  5. Campurkan adonan dengan tapioka sedikit demi sedikit. Kalau tepung sudah habis dan masih terasa lengket, sebaiknya jangan ditambahkan tepung lagi. Cukup lumuri tangan dengan sagu sehingga adonan tidak lengket di tangan.
  6. Bentuk sesuai selera.
  7. Masukkan adonan yang sudah dibentuk ke dalam air mendidih dan tunggu hingga adonan mengapung. Angkat dan tiriskan.
  8. Goreng dan sajikan bersama kuah cuko.

Berikut ini gambar saat saya membuat kapal selam:

Pertama, lumuri tangan dengan sagu dan timbang adonan sekitar 50 gram dan bulatkan (untuk ukuran sedang):

Kedua, pipihkam adonan dan bentuk menjadi mangkuk:
 

Ketiga, masukkan telur yang telah dikocok. Lebih banyak tentu lebih enak, tapi daripada mengambil resiko adonan tidak bisa ditutup, saya isi sedikit saja. Hasilnya seperti nggak pakai telur, tipis bangeeet...
 

Keempat, rapatkan mulut mangkuknya. Hati-hati jangan sampai telurnya keluar ya...
 

Dan inilah hasilnya setelah direbus:
Ini di meja dapur yah... bukan di lantai... hehe
Saya hanya punya gambar saat memasaknya saja, hihi. Hasil jadinya cukup pas-pasan untuk berempat. Begitu digoreng langsung serbuuu... dan tukang fotonya pun lupa kalau hasil jadinya belum difoto.
Hasil jadinya memang nggak akan seenak yang menggunakan ikan, tapi sepadan lah dengan biaya yang dikeluarkan. Saran saya sih, jangan bikin satu resep saja kecuali untuk dimakan sendiri.

Selamat mencoba!!

Puding Coklat

Bismillahirrahmanirrahiim...

Puding (dan makanan berbahan dasar agar-agar) mungkin salah satu pencuci mulut yang bikinnya paling gampang. Campur bahan, campur air, rebus, dinginkan *gancil toooh...*
Tapi, sayangnya saya nggak terlalu suka, baik bikinnya maupun makannya. Menurut saya, nggak pernah ada puding yang benar-benar enak yang pernah saya makan... Eh, pernah ding... satu kali: Puding Sutra Mangga buatan Mbak Yuni. Beberapa kali saya berusaha membuatnya kembali dan nggak ada yang oke. Sampai akhirnya saya berkesimpulan: emang puding rasanya gitu, nggak ada yang istimewa.

Kemudian dari hasil browsing sana-sini dan mantengin Milis NCC saya banyak mendapatkan resep-resep termasunk resep Puding Coklat yang katanya nyoklat banget. Singkatnya, ini resep oke banget! Mohon maaf saya lupa ini resep siapa, tapi yang jelas bukan resep saya :), berikut ini resepnya:

Bahan Puding:

  • 1750 ml susu coklat cair (pakai UHT putih juga nggak masalah kok... tapi sebaiknya jangan diganti dengan susu kental manis yang dicairkan, karena setelah saya coba hasilnya lebih cair walaupun dengan volume yang lebih sedikit)
  • 150 gr gula pasir (ini sih sesuai selera... kalau saya biasa pakai 2 sendok makan saja untuk susu putih, rasanya akan cenderung pahit, tapi jadi pas kalau dipasangkan dengan vla yang manis)
  • 50 gr coklat bubuk
  • 2 bungkus agar-agar coklat
  • 250 gr DCC (Dark Cooking Chocolate), cincang.
Bahan Vla:
  • 250 ml susu coklat cair (saya pakai susu UHT putih)
  • 50 gram gula pasir (atau sesuai selera)
  • 2 SDM coklat bubuk (saya nggak pakai)
  • 1 SDM tepung maizena cairkan dengan sedikit air (kalau saya lebih merasa pas kekentalannya dengan 2 SDM tepung maizena)
  • 1 SDM Rhum (saya ganti dengan 1 SDT Vanilla Essence/Vanila Bubuk)
Cara Membuat:
Puding:
  1. Campur susu cair, gula, agar-agar, dan coklat bubuk dan aduk sampai dengan rata.
  2. Masak di atas api sedang. Saat mulai hangat, masukkan DCC cincang. Aduk terus hingga rata.
  3. Masak sampai dengan mendidih kecil. Matikan api.
  4. Tunggu hingga uap panas hilang (jika memakai cetakan plastik). Kalau pakai non plastik sih cuek aja, langsung tuang. Tapi tetap tunggu hingga uap hilang, baru dinginkan di kulkas. Tips dari saya, saat menuang agar-agar, gunakan saringan dengan lubang yang kecil. Selain untuk menyingkirkan adonan yang tidak teraduk rata, dijamin permukaan puding akan mulus!! Gambar yang saya pajang masih kurang mulus karena saat itu belum nemu tipsnya. Hehe.
Vla:
  1. Campur susu dan gula, masak di atas api hingga mendidih kecil.
  2. Masukkan maizena yang telah dicairkan dengan sedikit air.
  3. Aduk terus sampai rata dan mengental.
Sajikan puding dan vla dalam keadaan dingin.

Puding yang ada di foto saya buat untuk ulang tahun adik ipar. Asli kecil-kecilan dan hanya makan puding itu saja, hehe. Semua bilang enyaaaaak!! Awalnya juga saya PD untuk membuat puding ini karena adik ipar saya (yang lain) main ke rumah saat pertama kali saya bikin puding ini untuk Abang (dan katanya dia nggak suka!!). Mereka ketagihan dan minta dibuatkan lagi... jadi sebenarnya momen ulang tahun hanya alasan mereka saja, haha.

Sedikit tips dari Ibu Mertua saya, vla lebih enak kalau pakai sedikit santan dan sedikit air garam. Saya pribadi merasa agak aneh rasanya dan kurang cucok kalau menggunakan santan. Tapi air garam kayaknya boleh juga... entah mengapa rasanya menjadi lebih seimbang :). Takarannya? Mohon maaf, saya juga cuma kira-kira, hehe.

Intinya, puding ini menurut saya puding paling enak yang pernah saya coba... Membuatnya pun gampang banget. Silahkan dicoba di rumah ya :)


Dan ternyata... ketemu foto dengan permukaan puding yang mulus (walaupun kurang fokus). :)


Saturday, January 4, 2014

Triple Chocolate Cake

Bismillahirrahmanirrahiim...

Duh, sebenarnya saya agak bingung memberikan judul untuk tulisan ini. Triple Chocolate Cake adalah nama yang sudah diaku oleh banyak orang dan kemudian saya menjadi salah satu dari mereka. Tapi ada alasannya kok kenapa saya bilang triple. Coklat pertama ada di kue dasarnya, yaitu brownies kukus coklat (resepnya ada di sini ya...). Coklat kedua adalah lapisan ganache siram. Coklat ketiga adalah buttercream coklat yang menjadi hiasannya.

Karena resepnya sudah pernah saya tulis, langsung pamer fotonya saja ya...




Kue ini adalah permintaan dari Ibu Mertua saya untuk dibawa ke acara pengajian salah satu saudara yang besok akan melangsungkan pernikahan. Sebenernya sih... Bunda hanya minta dibuatkan kue potong, tapi saya salah tangkep, jadinya dibuatlah kue yang lumayan caem ini *GR woi...*.

Faktor lain kenapa saya sebegitu semangatnya untuk memberikan dekorasi yang nggak standar adalah karena semalam suami saya dengan gaya cueknya seperti biasa memberikan benda ini:


Aaaa... Saya langsung jerit-jerit. Tadinya pun saya hanya berniat memberikan dekor pinggiran kue bentuk kerang plus buah segar di bagian atas. Tapiii, karena penasaran dengan gadget baru, iseng-iseng saya buat mawar dari buttercream. Sebelumnya memang saya doyan banget mengoleksi berbagai video dari You Tube termasuk dekorasi kue, coklat, dan resep-resep yang membutuhkan perlakuan khusus. Ternyata lumayan berhasil. Salah satu faktor yang membuat mawarnya kurang kokoh adalah tekstur buttercream yang agak lembek. Untuk membuat mawar memang sebaiknya menggunakan tekstur buttercream yang kaku (konon resep buttercream di buku NCC adalah salah satunya).

Nah, terakhir... bolehlah ya... sesekali tukang masaknya nampang di sini (^_^)!





Wednesday, January 1, 2014

Caramel Custard Pudding



Bismillahirrahmanirrahiim...

Dulu… pas masih kuliah, saya pernah membuat puding karamel dengan metode kukus. Pertama, karena cuma tau resep tersebut. Kedua, nggak minat buat nyari resep lain lebih lanjut. Ketiga, nggak punya oven. Kesan saya: trauma. Selain ribed (jaman itu mah masak apaan juga gue ribed, hihi), hasil jadinya bau telor (banget). Intinya, bau amis dan saya nggak kuat makannya.

Karena itulah, saat suami minta dibuatkan puding karamel, bawaannya maleees banget. Udah ngebayangin deh nggak bakal suka sama rasanya. Akhirnya setelah mengumpulkan niat, saya bikin juga puding karamel. Di resep sebenernya nggak pakai tepung custard, tapi karena (akal bulus) pingin menghabiskan tepung custard, jadilah aku masukkan tepung custard, hehe. Ya udah jelas lah ya… teksturnya lebih seperti kue lumpur daripada puding karamel. Selain itu, bikin karamelnya sendiri susaaah… Intinya, hasil akhir belum memuaskan dan masih punya utang ke suami untuk bikin puding karamel yang oke.

Nah, tanggal 20 Desember lalu adik ipar saya menikah dan ada puding karamel di meja pencuci mulut. Karena katering yang dipakai memang beneran oke punya, jadi saya percaya puding karamel ini bisa dijadikan patokan, hehe. Bau telurnya masih ada, tapi nggak sedahsyat hasil eksperimen saya dulu. Kemudian di atasnya ada topping aprikot kalengan yang asem-asem seger. Intinya, enak. Oke deh… saya jadi semangat lagi untuk membuat puding karamel.

Saya nyontek resep dari DapurVanilla yang ternyata asal mulanya dari Sharmi Passion. Mbak Sharmi (orang India kayaknya…) bilang resep ini nggak pernah gagal, langsung ngiler dooooong… Hehe. Ini pendapat saya sih, bikin puding karamel itu gampang, yang susah itu membuat karamel. Alhamdulillah kemarin karamelnya jadi dan bukan seperti permen yang keras, tapi lebih seperti saus… Pokoknya uenaaak. Berikut resepnya ya…

Bahan:
Sirup Karamel:

  • 75 gr gula pasir
  • 3 sdm air panas

Custard:

  • 500 ml susu cair (saya pakai susu kental manis/SKM dengan proporsi 1:4)
  • 50 gr gula pasir (saya pakai 2 sendok makan, atau bisa dicoba sampai dengan sesuai selera)
  • 3 butir telur, kocok lepas
  • ½ sdt vanilla essens (saya pakai bubuk vanilla L’Arome)

Cara Membuat:

  1. Oles mangkuk ramekin dengan margarin tipis-tipis.  Sisihkan.  Panaskan oven dengan suhu 190°C. Saya memakai cup alumunium foil.
  2. Sirup Karamel: lelehkan gula dengan api kecil sampai kuning kecoklatan, tambahkan air, aduk rata.  Matikan api.  Tuang ke ramekin sama banyak.  Sisihkan. Buatan saya cukup untuk 5 cup, tetapi karamelnya nggak cukup euy… padahal sudah aku lebihkan menjadi 100 gram gula. Lain kali akan aku tambah menjadi 125 gram gula. Jangan lupa porsi airnya ditambahkan juga ya…
  3. Custard: panaskan susu dan gula dengan api sedang sambil diaduk-aduk sampai gula larut (tidak perlu sampai mendidih).  Matikan api.
  4. Masukkan telur dan vanilla.  Aduk rata, lalu saring.  Tuang adonan custard ke dalam mangkuk.  Oven dengan suhu 190°C selama 35 – 45 menit dengan metode au bain marie.
  5. Keluarkan pudding dari oven.  Biarkan dingin.  Masukkan ke dalam kulkas dulu sebelum dihidangkan. Hidangkan dengan buah-buahan segar. Menurut saya rasanya menjadi lebih seimbang, karena pudding karamel itu maniiiiis banget.

Oia, berikut ini sedikit tips dari saya (yang sering gagal) saat membuat karamel:

  • Sebaiknya di atas wajan anti lengket dan menggunakan spatula dari bahan silikon, dijamin karamelnya nggak akan nempel-nempel. 
  • Jangan disambi!! Once your caramel become overcooked, you have to make it from the beginning, hihi. 
  • Saat membuat karamel jangan banyak diaduk-aduk, cukup ratakan di wajan. 
  • Jika jumlah air untuk resep karamel dirasa kurang (misalnya ada karamel yang belum larut dan masih bergerindil), silahkan ditambahkan. Nanti airnya akan menguap kok.

Nah, karena puding karamel bukan termasuk dalam resep favorit saya (manis banget, bok), saya pisahkan satu cup untuk dimatangkan dengan cara dikukus supaya saya bisa tahu bedanya tanpa harus bikin dua kali, hehe. Hasilnya? Lebih enak yang dipanggang. Pertama, dari segi tekstur jadinya sangat sangat lembut (padahal yang dipanggang aja udah lembut). Kedua, yang dikukus bau telurnya lebih terasa. Ketiga, yang dikukus menjadi agak berair sedangkan yang dipanggang  kering (dalam artian positif ya...). Tips lainnya, sebaiknya setelah jadi dan didinginkan langsung dihabiskan. Karena kalau disimpan di kulkas terlalu lama (punya saya sekitar 3 hari) jadi berair euy…

Nah, ini dia hasil akhirnya: cantik kaaan? (jarang-jarang muji diri sendiri…hehe)




 Selamat mencoba :)

Cupcake buat Intan - Pennylane Brownies Cupcake

Bismillahirrahmanirrahiim...

Ya... ya... ya... I've never tried to bake Pennylane Brownies (kemane ajeee??). Dan kemudian tibalah hari di mana Intan (salah seorang rekan di SDM) harus pindah ke tempat yang Insya Allah lebih baik :). Sebagai penghargaan dan tanda sayang *taelah* saya berniat untuk membuatkannya kue. Seperti biasa, pertimbangan saya untuk membuat kue adalah bahan apa yang ada di rumah dan bahan apa yang nyisa :p. Gapapa lah ya... yang penting kan biar nggak mubazir.

Akhirnya saya putuskan untuk membuat Pennylane Brownies yang dipanggang di dalam papercup kemudian dihias dengan buttercream sisa orderan. Entahlah... apakah memang jadinya seperti itu atau nggak, tapi menurut saya hasil jadinya kurang legit (yap, saya penggemar kue yang lembab). Tapi dari segi rasa oke lah... Menurut suami dan teman-teman enak (memang agak jadi terlalu kritis yah kalo sering masak kue, hehe).

Berikut ini resep Pennylane Brownies dari Mbak Riana Ambarsari:

Bahan:

  • 4 butir telur
  • 360 gram gula pasir (saya pakai 200 gram saja dan sudah pas menurut saya...)
  • 225 gram minyak goreng
  • 60 gram cocoa powder
  • 210 gram tepung terigu
  • ½ sdt garam
  • 1 sdt vanili bubuk
  • 120 gram kenari/kacang tanah/mede cincang dan sangrai
  • 85 gram Chocolate Chips
Cara Membuat:
  1. Panaskan oven suhu 180C, alasi loyang dengan kertas roti dan olesi dengan margarin atau minyak goreng. Pastikan oven sudah cukup panas sewaktu adonan dimasukkan. Oven yang sudah cukup panas akan memunculkan lapisan coklat tipis transparan di permukaan brownies, membuat tampilan brownies semakin cantik. Kalau suhu oven kurang panas, lapisan ini tidak akan muncul (dan punya saya nggak keluar thin crust-nya... berarti masih harus coba lagi, hehe)
  2. Campurkan terigu, cokelat bubuk, sisihkan
  3. Kocok telur dan gula sampai mengental (supaya muncul lapisan kilapnya), masukkan vanili dan garam. Bisa jadi Pennylane Brownies buatan saya belum sempurna karena tidak cukup kental.
  4. Masukkan campuran tepung terigu dan cokelat bubuk sambil diaduk perlahan dengan spatula sampai rata.
  5. Masukkan minyak sambil diaduk perlahan. Lalu masukkan chocolate chips
  6. Tuang dalam loyang dua loyang ukuran 30 x 10cm. Taburi kacang almond slices di seluruh permukaannya. Hasil akhir kurang lebih 20 cup.
  7. Panggang kurang lebih 35 menit sampai muncul lapisan mengkilat di permukaan
  8. Angkat dan dinginkan.
Buttercream-nya pakai sisa orderan dari Dewi. Supaya tetap fluffy, setelah mencapai suhu ruang buttercream harus dikocok kembali, kalau nggak bakal susah di-spuit. Oia, sebenarnya buttercream-nya terdiri dari 2 warna, biru dan merah. Keduanya saya campur dan menghasilkan warna ungu yang manis (yeay!). Enjoooy!!


Cupcakes (masih) di Milad Abang

Bismillahirrahmanirrahiim...

Nyambung dengan posting sebelumnya, pingin berbagi masakan kedua yang saya buat: Vanilla Cupcake with Buttercream Frosting. Tujuan buat cupcake sebenarnya cuma satu: supaya bocah-bocah nggak rebutan. Selain itu, buatnya super gampang... hihi. Nggak perlu acara lapis-lapis buttercream dan belepotan, hehe.

Kali ini saya coba resep Smooth Butter Cake-nya Bu Peni Respati. Sejauh ini saya masih nyari resep cupcake yang lembab dan lembut. Smooth Butter Cake ini seperti namanya, emang beneran lembut!! Tapi bukan tipe kue yang lembab seperti yang saya inginkan (kayaknya lain kali mau coba Eggless Moist Cake yang resepnya lagi seliwar seliwer di group FB). Tapi untuk buttercake, resep ini the best lah pokoknya. Karena kue ini kokoh, ngembangnya bagus, dan lembut. Plus nggak terlalu berat (secoro pakai buttercream juga...) tapi tetap mengenyangkan. Berikut resepnya:

Bahan:
  • 300 gram Mentega/margarin
  • 150 gram Gula pasir halus
  • 8 buah Kuning telur
  • 250 gram Tepung protein sedang
  • 25 gram Tepung maizena
  • 1 sdt  Baking powder double acting (nggak pakai)
  • 50 ml  Susu cair (nggak pakai juga... karena nggak pernah bikin buttercake pakai susu, jadilah kelupaan untuk beli, hehe)
  • 6 butir Putih telur
  • 50 gram Gula pasir halus
  • 1/2 sdt  Pasta vanila
Cara Membuat:
  1. Kocok mentega dan 150 gram gula pasir hingga lembut (kalau patokanku, pokoknya sampai lembut dan mengembang dengan tekstur mirip buttercream)
  2. Tambahkan kuning telur satu per satu, kocok hingga tercampur rata
  3. Masukkan tepung terigu, maizena dan baking powder sambil diayak. Lakukan secara bergantian dengan susu cair. Kocok hingga rata.
  4. Di tempat terpisah, kocok putih telur dan 50 gram gula pasir. Masukkan ke dalam adonan tepung terigu, aduk rata.
  5. Terakhir tambahkan pasta vanila, aduk rata.
  6. Masukkan adonan ke dalam papercup. Isi 3/4 papercup (kalau saya patokannya adalah satu scoop es krim), kemudian panggang adonan di dalam oven paha suhu 160 °C selama 30 menit (kalau saya... dengan suhu sekitar 170 - 180 derajat celcius kurang lebih selama 30 menit).
Karena saya pakai Margarita, cupcake  ini wangi banget! Selama dipanggang mungkin tetangga sudah mengendus-endus :)
Setelah dingin, pekerjaan selanjutnya adalah menghias cupcake dengan buttercream. Resep buttercream yang saya pakai adalah resep milik Mbak Afi di sini: Resep Buttercream Yummy dengan Coklat. Proses membuat buttercream ini absurd deh pokoknya... Karena menurut saya hasil buttercream-nya terlalu lembek, jadilah saya tambahkan dengan whip cream cair dan... ternyata hasilnya nggak jauh beda, haha. Tapi soal rasa, cukup enak...

Semprot-semprot dengan 1M, dan tadaaa...



Tabur Bubuk Oreo biar nggak polos-polos amat :p
Yap, ini adalah masakan kedua yang saya buat untuk Milad Abang. Ketiga adalah bakso, tapi... berhubung baksonya beli jadi dan yang saya lakukan hanya merebus tulang iga dan cemplung bawang dan lada... nggak usah dibahas lah ya... Keempat adalah BDCK (Birthday Cake), tapi karena keterbatasan waktu nggak sempat saya apa-apain... hihi *masih utang kue karakter nih sama Abang :(*

Selamat makaaaaan... )

Wednesday, December 25, 2013

Tumpeng Nasi Kuning di Milad Abang

Bismillahirrahmanirrahiim...

Ternyata semangat masak nggak selalu diimbangi dengan semangat untuk mendokumentasikan hasil masakan. Ternyata (lagi) semangat mendokumentasikan hasil masakan nggak selalu diimbangi dengan semangat untuk posting di blog *melengos liat foto-foto kue...*

Yak, dengan mengumpulkan mood yang terserak, mari kita mulai tulisan pertama: Tumpeng Nasi Kuning.

Sebenernya saya nih bukan tipe orang yang bersemangat buat merayakan ulang tahun (apalagi kalo keluar banyak duit, hehe). Tapi dengan beberapa pertimbangan akhirnya jadi juga mengundang keluarga inti dan teman-teman Abang untuk makan-makan di rumah. Aslik, nggak banyak... cuma sekitar 11 orang. Ngundangnya pun cuma modal mulut doang nggak pake undangan. Ndilalah tetep pada bawa kado juga... *Alhamdulillah*

Masalah selanjutnya adalah... pada mau dikasih makan apakah para tetamu ini? Kue mah udah biasa ya... Salah satu yang cukup menjadi obsesi buat saya adalah tumpeng nasi kuning. Ngebayangin cara bikinnya aja mungkin udah males duluan. Tapi setelah baca resepnya Bu Fatmah kayaknya nggak terlalu sulit juga... Tapi tahu dong ya... kalo nasi kuning nggak mungkin manggung sendirian. Musti ditemenin sama (paling nggak) ayam goreng, telur dadar iris, tempe orek kering, perkedel, dan bihun/mie goreng. Bunda bahkan bilang mustinya pake urap. Bahan udah dibeli seh... tapi berhubung menganut asas demokrasi (Mamah dan Mpok sepakat Nasi Kuning nggak pake urap) dan sederhanainajaisasi, selamat tinggal urap...!! Baru ngeh kemudian kalo di resep NCC juga pake U-R-A-P.

Okay, cerita akan saya mulai dari mulai... cari resep. Taulahya... cari ke mana lagi kalo bukan NCC. Berikut resep dari Bu Fatmah:

Bahan :

  • 800 gr beras putih
  • 200 gr beras ketan
  • 1200 ml santan
  • 1 sdm kunyit halus
  • 2 sdm garam
  • 4 lbr daun salam
  • 1 lbr daun pandan
  • 2 btg sereh
  • 1 sdm air jeruk nipis (lupa dimasukin... secara rasa kayaknya nggak ngaruh banyak).

Cara Membuat :

  • Campur beras dan beras ketan, cuci bersih tiriskan, kukus (saya mengukus kurang lebih selama 30 menit).
  • Sementara itu campur kunyit dan santan, saring, buang ampas kunyit. Masak bersama daun salam, pandan dan sereh. Tambahkan garam. Masak tersu hingga mendidih. Matikan api.
  • Masukkan beras yg masih panas kedalam santan, aduk rata. Biarkan hingga santan terserap habis, dan beras menjadi aron. Tuangi air jeruk nipis. Aduk rata.
  • Kukus beras aron selama 20 menit, angkat (atau sampai masak... coba tes nasi yang di bagian dalam, sudah cukup matang atau belum). Cetak dalam cetakan tumpeng, yang ujung lancipnya sudah dialas daun pisang dan dipoles sedikit minyak sayur.
Saya buat 2 resep. Satu untuk tumpeng dan satu lagi untuk dibungkus dan dibagikan. Oia, saat mencampur beras kukus ke dalam adonan menurut saya airnya kurang, sehingga saya tambahkan lagi dengan santan. Emang sotoy... Nasi Kuning saya sukses kepulenan. Alhamdulillah masih enak dan menuai pujian, tapi saya bisa bilang resep ini udah ciamik dan nggak usah diapa-apain lagi, kecuali warna kuningnya yang menurut saya kurang jreng, jadi silahkan ditambahkan kembali.

Namanya juga belum pengalaman bikin hajatan yah... Tadinya saya nggak niat bikin tumpeng, hanya sekedar bkin nasi kuning untuk dibagikan ke tetangga. Ndilalah nasi masih banyak dan sudah beli cetakan tumpeng sehari sebelumnya. Coba-coba dicetak, ternyata cukup!! Masalahnya, saya hanya punya ayam 2 ekor. Udah pasti nggak cukup kalau disajikan dan dimasukkan ke bungkusan. Terpaksa nasi yang dibawa pulang nggak pake ayam ya adek-adek... :(

Oia, berikut ini tautan tentang tips persiapan membuat nasi kuning yang TIDAK saya baca sebelumnya: Tumpeng Nasi Kuning NCC. Jadi sebelum mulai harus atur strategi dulu deh... Ini strategi ala saya:
Acara hari Minggu, saya belanja semua keperluan di hari Sabtu.
Ayam goreng bisa diungkep di hari sebelumnya. Bumbunya? "Bu, bumbu ayam dua ekor, ya!!" alias... bumbu jadi di tukang bumbu dapur giling, haha. Saya ungkep dengan air kelapa dalam waktu yang lama. Hasilnya enak dan empuk banget.
Perkedel dan tempe orek dibuat sehari sebelumnya. Perkedel disimpan di freezer karena menggunakan telur. Takut basi bo...
Campuran santan juga dibuat sehari sebelumnya. Jangan lupa diangetin ya...
Saya juga sudah membuat bumbu dasar dan ditumis untuk membuat tempe orek dan bihun goreng. Jadi nanti tinggal osreng-osreng sajah. Jangan lupa bahan-bahan disiangi dan dipotong sesuai kebutuhan ya... Biar nanti masak kayak Mbak-mbak di TV yang tinggal cemplang-cemplung aje...

Dan, tadada... ini dia hasilnya!! *kibas jilbab*



Yah, begitulah hasilnya... Jangan bingung sama latarnya yang berantakan karena meja tempat menaruh tumpeng ini adalah satu-satunya meja yang saya punya. Ditambah keadaannya lagi ribed pula menyiapkan hidangan yang lain. Masih jauh dari oke sebenernya... Tapi saya seneng udah nyoba. Ibaratnya nih, bisa naik level... hihi.

Sooo... ayo dong yang pingin berbaik hati jadi fasilitator latihan saya selanjutnya, pesen Tumpeng ke saya yuuuk :D